Islamphobia dan Politik Adu Domba

0
199

*Dr. Slamet Muliono

Pembubaran pengajian kembali terjadi, dan alasan yang dipakai karena tidak ada ijin dari pihak kepolisian. Unik dan menariknya, alasan pihak kepolisian membubarkan acara itu karena ada tekanan dari ormas yang terkenal kerap membubarkan pengajian. Kasus ini menunjukkan adanya politik adu domba antar umat Islam guna menghancurkan kekuatan Islam dari dalam. Karena ada peran ormas Islam yang melakukan tekanan kepada aparat kepolisian. Dengan adanya pembubaran pengajian ini bukan saja membunuh kebebasan umat Islam untuk memperteguh agamanya, tetapi memberi pintu masuk guna melegalisasi tindakan kekerasan bagi umat Islam.

Sebagaimana ramai di media sosial bahwa kajian bertajuk “Cinta Mulia” yang diisi penceramah Ustadz Felix Siauw dibubarkan polisi. Acara ini dianggap meresahkan sehingga harus dihentikan. Felix menuding polisi membubarkan kajian tentang remaja dan masa pranikah itu karena ada desakan dari organisasi masyarakat (Ormas) tertentu. Felix melihat bahwa pembicaraan tentang “Cinta Mulia” dianggap meresahkan, sehingga harus dibubarkan. Padahal, kajian itu bertujuan untuk melawan degradasi moral. Tidak ada upaya menimbulkan gangguan keamanan makar. (fokusislam.com.1/5/2017)

Ormas Islam dan Pembubaran Pengajian

Apa yang terjadi di Malang merupakan potret buruknya sikap toleransi antar umat Islam. Betapa tidak, kajian dengan tema “Cinta Mulia” dengan pokok bahasan tentang keprihatinan sosial, atas para remaja yang cenderung hidup bebas, justru dihentikan dengan alasan meresahkan. Sungguh preseden buruk ketika umat Islam merasa prihatin dengan kondisi sosial justru dianggap racun yang membahayakan. Yang lebih memprihatinkan, yang mendesak pembubaran justru ormas Islam itu sendiri dengan alasan penceramahnya membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Standar dan batasan yang ditetapkan untuk membubarkan acara kajian juga tidak jelas tidak relevan dengan isi kajian. Kalau dikatakan acara kajian itu meresahkan, maka perlu ditunjukkan mana unsur meresahkannya, sehingga tidak terjadi blunder bagi ukhuwah Islamiyah. Pembubaran kajian bukan hanya jalan yang salah tetapi justru memicu konflik yang lebih besar. Perilaku ormas dalam membubarkan kajian ini merupakan perulangan yang telah dilakukannya ketika membubarkan pengajian di Sidoarjo beberapa waktu lalu. Pembubaran terhadap kajian yang membahas tentang “Keluarga sakinah” itu harus dilakukan karena narasumbernya dianggap wahabi dan membahayakan bagi kehidupan beragama di Indonesia.

Pembubaran kajian itu merupakan pengingkaran terhadap apa selalu didengung-dengungkan oleh ormas itu, dengan mengedepankan pentingnya sikap toleran dan anti kekerasan dalam menyelesaikan sesuatu. Apa yang dilakukan oleh ormas itu justru menabrak norma yang telah diyakini sebagai jalan terbaik. Pendekatan persuasif dan dialogis, terhadap pihak-pihak yang dicurigai sebagai ancaman bagi bangsa dan negara, tidak dianggap sebagai pilihan utama. Justru pendekatan teror dan ancaman dianggap sebagai jalan terakhir.

Kepolisian dan Tekanan Ormas
Alasan yang diungkapkan pihak kepolisian untuk menghentikan acara pengajian sangat sepihak. Betapa tidak, polisi dengan perangkatnya yang memiliki wewenang dan kekuasaan, bisa berdialog dengan mempertemukan antara laporan dan fakta di lapangan. Hilangnya dialog yang akan memperkeruh suasana dan ketegangan di antara umat Islam di kemudian hari. Apalagi masyarakat Indonesia secara umum adalah masyarakat yang patuh dan taat pada norma hukum yang berlaku, sehingga dialog akan memecah kebekuan dan ketegangan. Terlebih lagi, acara kajian itu itu adalah untuk memperoleh pendalaman dan wawasan tentang perbaikan diri dan kewaspadaan atas dampak kerusakan moral generasi muda. Yang agak menggelikan bahwa pembubaran yang dilakukan aparat kepolisian karena desakan ormas tertentu.

Sudah pasti kepolisian memiliki dasar yang kuat sebelum membubarkan sebuah komunitas yang dianggap meresahkan. Apa yang dilakukan kepolisiaan ketika membubarkan acara pesta gay adalah langkah tepat, karena perilaku dan gaya hidup gay bukan hanya berbahaya bagi generasi muda tetapi membahayakan tatanan sosial di masyarakat yang mayoritas muslim ini. Sungguh disayangkan bila kepolisian membubarkan acara yang sejalan dengan tugas negara yakni melakukan pendidikan dan mengarahkan generasi muda untuk hidup secara positif. Dengan kata lain, pembubaran pengajian itu justru kontra-produktif bagi tumbuhnya kesadaran beragama dan bermasyarakat yang mendasarkan pada agama.

Sudah saatnya pihak kepolisian melakukan kerja secara profesional dengan aturan yang sudah ditetapkan secara internal, dan menghindarkan diri dari tindakan berdasarkan tekanan ormas tertentu. Bisa jadi ormas lain akan melakukan hal yang sama dengan menekan kepolisian untuk membubarkan komunitas yang dianggap meresahkan dan memecah belah masyarakat. Oleh karena itu, sungguh merendahkan profesionalisme kepolisian bila sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan masyarakat kebanyakan untuk menekan aparat kepolisian untuk membubarkan kajian Islam. Sudah selayaknya polisi berada di tengah dalam menyikapi perbedaan yang ada di masyarakat. Kalau dianggap meresahkan dan mengkhawatirkan akan terjadinya konflik sosial, maka kepolisian wajib untuk melakukan tindakan preventif dengan menyiapkan argumen dan data yang kuat, bukan berdasarkan aduhan sepihak.

Pembubaran pengajian yang dilakukan ormas Islam bisa jadi merupakan potret hubungan di antara umat Islam. Hal ini bisa menjadi pintu masuk bagi kelompok lain untuk semakin mudah memecah belah umat Islam. Sikap toleran seharusnya dikedepankan oleh ormas yang mendesak aparat kepolisian. Sungguh elegan bila ormas itu mendatangi secara baik-baik dan mendahulukan sikap ukhuwah sebagai sesama muslim, bukan justru menekan dan mengancam kepolisian untuk membubarkan acara kajian yang mendalami nilai-nilai Islam. Kalau bisa berdialog dengan kelompok Nasrani dan berujung bisa menjaga gerejanya, maka mendatangi masjid mereka untuk shalat berjamaah dan mendialogkan persoalan umat Islam saat ini, tentu lebih elegan dan mengokohkan persaudaraan Islam.

Surabaya, 1 Mei 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here