Apakah Hukum Paytren Haram?

0
3660

JAKARTA (fokusislam) – Sebutan Paytren sedang popular saat ini. Sebuah kegiatan bisnis yang lekat dengan nama figur ustadz Yusuf Mansyur sepertinya semakin diminati banyak orang. Namun, belakangan ada bisnis Paytren menjadi kontroversial karena munculnya pandangan kritis dari sisi syariah agama. Lalu, bagaimana pandangan sisi syariah dari bisnis yang sedang berkibar dengan bendera Paytren?

Pakar Ekonomi Syariah Dr. Erwandi Tarmizi, MA yang mendalami fikih muamalah dan menyelesaikan S3 jurusan Ushul fiqh, Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, 2006-2011 pada sebuah Kajian, ketika menjawab sebuah pertanyaan, secara tegas menyatakan bahwa Paytren itu haram. Ustadz Erwandi menjelaskan bahwa Paytren, adalah menukar uang dengan uang.

Selanjutnya Ustadz Erwandi mengungkapkan bahwan untuk mengikuti program ini seseorang harus mengeluarkan yang paling murah adalah Rp.3.500.000. Sementara produk yang sama, dari perusahaan lain, bisa gratis.”Bedanya, yang ini ada iming-iming bonus. PAda level tertentu dapat bonus Rp100 juta. Lalu, level sekan, bonus Rp200 juta, pada level sekian ada yang Rp500 juta. Pada level selanjutnya dapat rumah mewah, ada juga pada level tertentu yang dapat bonus mobil mewah dan seterusnya,” kata Ustadz Erwandi.

Ustadz mengungkapkan, seseorang diminta bayar Rp3.5 juta, tetapi diiming-iming Rp100 juta. Jika orang siap membayar Rp3,5 juta untuk mendapatkan Rp100 juta, ini namanya tukar uang dengan uang. Sementara Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wassalam mensyaratkan tunai dan sama nominalnya. Nilainya tidak sama, maka terjadi riba fadhl karena beda nominalnya, juga terjadi riba nasiah, karena penukaran tidak tunai.

Selain itu, kata Ustadz Erwandi ada unsur judi. Jika kita melempar koin dengan dua sisi, kemudian yang memilih satu sisi yang keluar akan mendapatkan Rp1 juta. Kesempatan untuk muncul salah satu sisi 50%, ini haram. Semua kaum muslimin paham ini bagian dari judi, hukumnya haram. Dalam Paytren dan jenis MLM lainnya, menurut penelitian ulama, paling banyak yang sukses mendapatkan bonus itu hanya 4 dari 100 orang, peluangnya hanya 4%. Karena, jika yang mendapat peluang itu mencapai 50%, perusahaan tersebut akan tutup. “Jika yang berpeluang 50% saja haram, maka yang berpeluang hanya 4%, haram dan pembodohan,” kata Ustadz Erwandi.

Anda bisa mendengar langsung penjelasan Usatadz Erwandi pada link berikut:

Sementara Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan secara rinci di pada konsultasisyariah.com pada link: https://konsultasisyariah.com/29323-hukum-paytren-bagian-01.html

Ustadz Ammi menjelaskan secara bersambung pada portal Konsultasisyariah.com. Pada bagian pertama, Ustadz Ammi melihat adanya unsur Ghoror dan unsur Judi pada Paytren. Salah satu diantara penyebab transaksi yang terlarang dalam islam adalah adanya gharar.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. (HR. Muslim 3881, Abu Daud 3378 dan yang lainnya).

Mengenai pengertian gharar, dinyatakan oleh Syaikhul Islam dalam al-Qawaid an- Nuraniyah,
الغرر هو المجهول العاقبة
“Gharar adalah Jual beli yang tidak jelas konsekuensinya” (al-Qawaid an-Nuraniyah, hlm. 116)

Untuk lebih rinci mengenai penjelasan Usatdz Ammi, anda bisa membuka link:
https://konsultasisyariah.com/29323-hukum-paytren-bagian-01.html

(eri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here