Faidah-Faidah dari Tabligh Akbar Ustadz Abdullah Zein, Lc MA di Masjid As-Sunnah Cirebon

0
184
Suasana kajian di dalam masjid As-Sunnah Cirebon
Suasana kajian di dalam masjid As-Sunnah Cirebon

CIREBON (fokusislam) – Ribuan kaum muslimin hadir di Masjid As-Sunnah Cirebon, Ahad (7/5/2017). Kedatangan ribuan kaum muslimin ini dalam rangka mendengarkan nasihat dan taushiyah yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zein Lc MA.

Berikut faidah-faidah yang dirangkum oleh redaksi Fokus Islam dari Tabligh Akbar yang bertemakan “ Miskin Perasaan.

  1. Fenomena Miskin Perasaan terjadi di banyak lini dalam kehidupan kita. Ada fenomena miskin perasaan antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, antar tetangga, bahkan antara ustadz dengan jamaahnya.
  2. Di antara contoh fenomena miskin perasaan yang terjadi pada anak kepada orang tua adalah anak tidak memperhatikan orang tua ketika mereka berbicara. Atau ketika seorang anak melakukan perintah orang tua namun dengan diiringi ucapan yang tidak menyenangkan.
  3. Seorang ulama keturunan Nabi, bernama Zainal Abidin. Beliau anak yang sangat berbakti kepada orang tua, tetapi tidak pernah makan bersama dengan ibunya. Kenapa?. Karena khawatir, jika makan bersama ibunya, beliau akan mengambil makanan yang diinginkan oleh ibunya. Zainal Abidin lebih memilih menunggu lapar sehingga ibunya bisa menyelesaikan makanannya.
  4. Ibnu Aun Al-Muzani bahwa ibunya pernah memanggilnya suatu hari, hanya saja ketika menjawab suara Ibnu Aun lebih tinggi dari suara ibunya. Sadar bahwa suaranya lebih tinggi dan bisa mengakibatkan perbuatan durhaka, Ibnu Aun langsung memerdekakan dua orang budak.
  5. Imam Adz-Dzahabi menceritakan seorang ahli hadits bernama Bundaar yang setiap hari mengumpulkan hadits dari seluruh ulama Bashrah. Bundaar tidak pernah keluar dari kota itu, demi berbakti kepada ibunya.
  6. Di antara bentuk fenomena miskin perasaan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya adalah membanding-bandingkan antara seorang anak dengan yang lainnya.
  7. Begitu pula ketika orang tua tidak menghargai hasil karya anaknya, maka itu pun merupakan bentuk fenomena miskin perasaan. Contoh, ada seorang anak yang menggambar, mencoret-coret bukunya dengan membuat gambar gunung dan pohon, tapi orang tuanya mengatakan, “jelek sekali itu..” .
  8. Bentuk miskin perasaan yang dilakukan seorang suami terhadap istri adalah ketika ia mencari-cari kesalahan istri padahal kesalahan tersebut sepele, seperti masakan yang keasinan atau baju yang kurang rapi ketika disetrika.
  9. Seorang suami yang mengintimidasi istrinya dengan ancaman poligami, berarti tidak bisa menjaga perasaan istrinya.

 

10. Dalam hidup bertetangga, perasaan harus betul-betul bisa dijaga. Pasalnya, tetangga adalah orang yang pertama kali akan membantu dan memberikan pertolongan kepada kita.

11. Terkadang, seseorang parkir di depan rumah tetangganya. Bisa jadi tetangganya merasa keberatan dengan perilakunya. Maka hendaknya sesama tetangga bisa menjaga perasaan masing-masing.

12. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya menyebut bahwa ketika seorang muslim memasak daging, hendaknya memperbanyak kuahnya dan membagikannya dengan tetangganya. Hal itu demi menjaga perasaan antar tetangga.

13. Seorang ulama kota Mekkah, Imam Atha bin Abi Rabah, menceritakan bahwa terkadang ada muridnya yang datang dan menyampaikan hadits. Imam Atha secara seksama mendengarkannya dan bersikap seolah-olah belum pernah mendengar hadits tersebut, padahal Imam Atha telah mendengarkan hadits tersebut bahkan sebelum muridnya itu terlahir. Ini adalah bentuk menjaga perasaan dari seorang guru kepada muridnya.

14. Salah satu kisah menakjubkan dari seorang ulama bernama Hatim Al-Asham, yang betul-betul menjaga perasaan dari kaum muslimin lainnya. Beliau diberi julukan Al-Asham (tuna rungu),karena beliau menjaga perasaan dari seorang perempuan yang bertanya kepadanya. Ceritanya, saat perempuan itu bertanya, ia tidak bisa menahan suara kentutnya. Seketika, merahlah muka perempuan itu karena menahan malu. Namun Hatim bersikap wajar dan tidak bereaksi apa-apa. Bahkan Hatim, meminta kepada perempuan itu untuk meninggikan suaranya. Perempuan itu kemudian bergembira karena merasa Hatim tidak mendengar suara kentutnya. Sejak itulah Hatim diberikan gelar Al-Asham, Hatim si Tuna Rungu.

Demikian beberapa faidah yang Redaksi Fokus Islam rangkum dari Tabligh Akbar Ilmiyah bertemakan “Miskin Perasaan” yang dilangsungkan pada hari Ahad (7/5/2017) di Masjid As-Sunnah Cirebon. (azman)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here