Setelah Menista Agama Islam, Kini Menista Hukum Indonesia

0
824

*)Dr. Slamet Muliono

Perilaku menista agama Islam dan menista hukum Indonesia telah dilakukan sekaligus oleh Ahokers (para pendukung Ahok). Dua fenomena penistaan ini bukan hanya untuk menghancurkan Islam sebagai agama, juga menghancurkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Kalau selama ini umat Islam selalu dijadikan sasaran kambing hitam dan selalu dituduh sebagai sebagai kelompok radikal dan intoleran, maka fenomena penistaan agama dan penistaan hukum ini justru berbalik kepada para penuduh itu sendiri. Artinya, sikap radikal dan intoleran yang selalu disematkan kepada umat Islam, tetapi justru dilakukan Ahokers. Kalau selama ini umat Islam diidentikkan dengan gerakan radikal, tetapi kelompok non-muslim ini justru tidak bisa menunjukkan sikap santun atau toleran kepada orang lain.

Ahokers dan Aksi Melecehkan Hukum
Kalau selama ini umat Islam selalu diblow up sebagai kelompok yang berbahaya eksistensi Pancasila dan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena tuduhan radikal dan intoleran serta tak menerima kebhinnekaan, maka justru kelompok non-muslim inilah sebenarnya yang layak disebut sebagai kelompok yang intoleran dan tak siap menerima kebhinnekaan. Berbagai aksi radikal dan intoleran benar-benar ditunjukkan oleh para pendukung Ahok, pasca kalahnya Ahok dalam pertarungan Pilkada DKI, khususnya pasca keputusan Hakim yang menetapkan Ahok dipenjara 2 tahun.

Sikap kalang kabut dan gelap mata, ketika Ahok dinyatakan bersalah dan harus mendekam di penjara, secara kasat mata terlihat dengan gerakan-gerakan intoleran dan melecehkan hukum Indonesia yang mereka lakukan. Ahokers bukan hanya tidak terima dengan keputusan hakim tetapi justru melakukan tindakan kontraproduktif menghinakan hukum Indonesia. Kalau selama ini, mereka dianggap sebagai kelompok yang “waras” dan selalu menasehati (baca : menghina) umat Islam agar percaya kepada proses hukum. Maka saat ini mereka justru menjadi pihak pertama yang tidak menerima keputusan hukum.

Beberapa tindakan aksi yang mereka lakukan telah membuka mata dunia, bahkan mereka sebenarnya bukan cinta negara tetapi justru melecehkan hukum Indonesia. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa aksi mereka.

Pertama, aksi menyalakan lilin serentak di beberapa kota, seperti di Palembang, Medan, atau Jakarta. Aksi ini merupakan salah satu contoh betapa mereka tidak mampu menerima kenyataan bahwa Ahok benar-benar bersalah karen terbukti telah menistakan agama. apa yang terjadi di Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera) pada hari Jum’at (12/5/2017) pukul 19.00. merupakan fakta bahwa mereka tidak patuh dan taat pada keputusan hukum yang berlaku di Indonesia.

Kedua, aksi akan menduduki Balai kota. Munculnya aksi simpatisan teman Ahok yang siap menduduki Balaikota untuk merebut gubernur dari Anies merupakan ketidaksiapan mental mereka menerima kenyataan. Para teman Ahok yang tergabung dalam teman Ahok dan organ lainnya siap mengorbankan jiwa dan raga untuk mengembalikan kekuasaan gubernur DKI Jakarta ke Ahok. Mereka menyatakan siap untuk mengembalikan Ahok menjadi gubernur agar Jakarta lebih baik. Bahkan mereka berargumen bahwa setelah Ahok masuk penjara, ibukota tidak tertata lebih baik dan muncul berbagai masalah
Ketiga, aksi melecehkan hukum Indonesia di luar negeri. Upaya berbagai pihak, seperti media, lembaga, atau negara asing untuk merespon vonis atas Ahok semakin liar dan tak menunjukkan rasa hormat pada penegakan hukum di Indonesia.

Pernyataan mereka, guna membela Ahok setelah keputusan Hakim, sangat menghinakan hukum di Indonesia. Di media sosial berkembang sebuah rencana aksi mereka untuk menggugat peradilan dan sistem hukum Indonesia. Hal ini akan dilakukan di New York di depan gedung PBB, Washington di depan White house, dan di beberapa tempat yang berbeda seperti, Virginia, Georgia, Chicago, Florida, San Francisco, Los Angeles dan lain-lain.

Kalau selama ini Ahok memperoleh keistimewaan yang luar biasa, seperti tidak ditahan saat ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penista agama dan tetapi menjadi Gubernur, kasus rumah sakit Sumber Waras yang tidak diproses KPK, pengadilan tak melanjutkan kasus Trans Jakarta, kasus suap Reklamasi Teluk Jakarta yang tak diusut. Namun hal ini tidak membuat mereka berterima kasih tetapi justru mendiskreditkan, memfitnah, dan menghinakan Indonesia di mata internasional.

Umat Islam dan Kecintaan Pada NKRI
Kalau Ahokers senantiasa curiga terhadap gerakan umat Islam untuk menggulingkan ideologi negara, maka langkah dan gerakan mereka yang berteriak hingga ke luar negeri, merupakan contoh bahwa merekalah sebenarnya kelompok yang membahayakan atas eksistensi ideologi Pancasila dan NKRI.

Benar apa yang dikatakan oleh Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo beberapa waktu yang lalu, ketika demo dan aksi umat Islam membahayakan dan berpotensi menggulingkan penguasa. Maka Gatot Nurmantyo menyangkal atas kekhawatiran itu dengan mengatakan bahwa tidak mungkin umat Islam memberontak dan mengkudeta pemerintah yang sah (presiden Jokowi). Karena umat Islamlah yang paling berjasa dalam menjaga dan merebut NKRI dari tangan penjajah, dan umat Islam merupakan para ksatria yang memiliki jiwa patriot yang tinggi dalam mempertahankan negaranya.

Umat Islam adalah elemen masyarakat Indonesia yang memiliki andil besar terhadap eksistensi negara, dan tidak mungkin hasil yang telah diperoleh dengan pengorbanan fisik dan darah akan mereka koyak-koyak sendiri dengan mengganti ideologi negara yang mereka rumuskan sendiri. Sebaliknya Ahokers merupakan penumpang gelap yang tidak ikut berjuang menjadikan negara ini merdeka, tetapi mereka memang beruntung bisa menguasai berbagai sektor kekayaan Indonesia.

Tumbangnya Ahok benar-benar mengancam eksistensi para penumpang gelap ini, sehingga dengan berbagai cara dilakukan untuk membebaskan Ahok meski harus menghinakan dan menginjak-injak hukum Indonesia di dalam maupun di luar negara. Disinilah terlihat orisinalitas umat Islam dalam membela negara Indonesia, dan kepalsuan para penumpang gelap (Ahokers) dalam mencintai negara Indonesia.

Surabaya, 15 Mei 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here