Perilaku Gay Penghancur Moral Anak Bangsa

0
174

*)Dr. Slamet Muliono

Seolah tidak ada rasa takut untuk melakukan penyimpangan seksual, para pelaku gay melakukan pesta seks di ruang publik secara massal. Kalau dahulu, para gay melakukan tindakan menyimpang ini secara sembunyi-sembunyi, entah takut atau untuk menjaga privasi mereka, maka akhir-akhir ini mereka menjalankan perilaku menyimpang itu bukan saja terbuka tetapi massif. Hukum di Indonesia yang demikian lunak dan tidak membuat efek jera, serta adanya pembelaan dari lembaga-lembaga yang tak jelas orientasinya, membuat para gay ini semakin berani untuk bertindak terbuka. Tindakan polisi ketika menghentikan dan menangkap aktivitas para gay, oleh para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH), dianggap sebagai tindakan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Sebagaimana diberitakan bahwa sebanyak 144 pria gay diamankan Tim Operasional Jatanras dan Resmob Polres Metro Jakarta Utara di tempat fitnes spa. Saat penggerebegan, polisi berhasil menangkap para gay yang tengah asyik berpesta seks. Bahkan saat ditangkap, ada striptis show yang dilakukan empat pemain striptis dan onani di lantai dua. Yang menarik, aktivitas mereka sudah berlangsung selama tiga tahun (Tribunnews.com Network), Senin (22/5/2017).

HAM Sebagai Topeng Pembenar
Tren keberanian para gay untuk menyuarakan aspirasi mereka memang mengalami peningkatan yang signifikan. Kalau sebelumnya, pria gay tergolong warga masyarakat yang sakit, dan harus diterapi. Sementara masyarakat Indonesia, yang mayoritas muslim, sangat keras permusuhannya terhadap perilaku penyimpangan seksual ini. Umat Islam sadar betul bahwa para gay ini adalah generasi yang memiliki perilaku yang mirip dengan kaum Nabi Luth, yang memiliki perbuatan keji dan terlaknat. Dengan kata lain, pandangan umum masyarakat Indonesia demikian kompak bahwa para gay telah melakukan perbuatan yang nista dan hina.

Sejalan dengan kebebasan berpikir dan berperilaku, keberanian para gay mengalami peningkatan. Keberanian para gay diawali dengan perjuangan mereka secara terbuka dengan pernyataan mereka bahwa siapapun memiliki hak untuk menyalurkan hasrat tanpa harus memperoleh halangan dan hambatan. Keberanian mereka didukung oleh para aktivis LSM atau LBH yang melakukan pembelaan. Hal ini semakin meneguhkan eksistensi mereka sebagai kelompok yang tidak menyimpang. Mereka tidak peduli dengan suara mayoritas umat Islam yang begitu gigih menolak keberadaan mereka yang sangat membahayakan, dari sisi apapun.

Dukungan media massa yang mengakui eksistensi mereka dan menganggap mereka sebagai warga yang harus dilindungi keberadaannya, justru membuat mereka semakin percaya diri dan terbuka dalam menunjukkan penyimpangannya. Bukannya sadar akan penyimpangan seksualnya, mereka justru semakin berani unjuk gigi dan menyatakan secara terbuka bahwa dirinya manusia yang normal dan harus memperoleh perlakuan normal. Kejadian menarik adalah ketika pimpinan Universitas Andalas, Padang menolak mahasiswa yang kedapatan mengidap LGBT. Spontan beberapa pihak mengecamnya, dan menganggap bahwa kebijakan itu sangat diskriminatif karena menghalangi warga negara memperoleh jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Dukungan beberapa pihak terhadap eksistensi LGBT justru semakin memperkuat eksistensi mereka.

Gay dan Rusaknya Bangsa
Penyimpangan seksual yang dilakukan oleh para gay bukan hanya menghancurkan anak bangsa tetapi juga menghancurkan bangsa itu sendiri. Benar apa yang dikatakan oleh Menteri Pertahanan, Jenderal Ryamizard Ryacudu bahwa LGBT adalah proxy war, dimana untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer. Merusak generasi dengan memberi ruang kebebasan tanpa batas guna melakukan penyimpangan seksual, dan hal ini sangat efektif dalam menghancurkan bangsa tanpa harus memeranginya secara militer.

Daya rusak dari perilaku seksual yang menyimpang jauh lebih dahsyat dibandingkan narkoba. Dampak penyimpangan seksual para gay dianggap tidak memiliki pengaruh luas, karena yang rusak bersifat individu dan rusaknya berskala kecil. Padahal pembiaran terhadap seks menyimpang itu akan mengundang dan menyatukan bagi siapapun yang memiliki perilaku seks yang sama. Jika hal ini dibiarkan akan menghapus lahirnya generasi baru. Lebih jauh lagi, berkembangnya seks menyimpang bukan hanya menghentikan lahirnya generasi baru tetapi akan merusak tatanan masyarakat. Oleh karena itu, Al-Qur’an menyebut perbuatan ini sebagai perbuatan melampaui batas, sebagaimana Allah katakan :
Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas (QS. Al-A’raaf : 80-81)

Binatang saja tidak pernah ada yang melakukan hubungan sesama jenis, sehingga pantas Allah mengutuk perbuatan itu. Sehingga sangat layak apabila perbuatan menyetubuhi sesama jenis itu disebut sebagai perbuatan yang melampaui batas. Yang unik adalah respon yang ditunjukkan oleh para gay ketika memperoleh nasehat atau peringatan atas penyimpangan mereka. Kalau nabi Luth dikatakan sebagai manusia sok suci, maka kita dituduh sebagai manusia yang tidak memberi kesempatan kepada mereka (pelaku gay) untuk menyalurkan hasratnya kepada sesama jenisnya.
Fenomena di atas dengan pola pembiaran terhadap para gay dan pembelaan terhadap perilaku seks menyimpang secara sistematis, tidak lepas dari upaya untuk menghancurkan bangsa tanpa melalui perang militer. Dengan kebebasan seks dengan sesama jenis bukan hanya membunuh pelaku secara individu, tetapi akan merusak bangsa secara kolektif tanpa harus melalui serangan militer.

Surabaya, 24 Mei 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here