Konspirasi Jahat AS di Philipina dan Penghancuran Islam

0
1415

*)Dr. Slamet Muliono

Bukan Amerika Serikat (AS) kalau tidak menciptakan kekacauan dan distabilitas sebuah negara yang dianggap kurang patuh atau merugikan kepentingan negaranya. Setidaknya, negara yang tidak taat dan merugikan kepentingan AS akan dilanda krisis atau kekacauan. Salah satu negara yang saat ini dianggap tidak patuh dan merugikan kepentingan AS adalah Philipina. AS menganggap bahwa sikap politik presiden Philipina, Rodrigo Duterte dalam menangani masalah dalam negerinya, sangat merugikan AS. Dalam dua kasus, Duterte telah melakukan pembangkangan yang merugikan kepentingan AS. Pertama, penanganan kasus Narkoba dengan membunuh para bandar dan pecandunya. Disinyalir bahwa para bandar narkoba banyak berasal dari AS. Kedua, pemutusan hubungan militer dengan AS. Akibat dua kebijakan ini, Duterte harus menghadapi pergolakan di dalam negeri berupa bangkitnya perlawanan dari kelompok Islam yang melibatkan ISIS. AS mensinyalir bahwa ISIS telah masuk dalam barisan tentara Islam yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah, sehingga negaranya harus menumpas kelompok ISIS itu.

Duterte dan Keinginan Melepas AS
Sebagaimana diberitakan bahwa hubungan antara Phipilina dan AS memburuk karena sikap Duterte yang ingin mengakhiri sepak terjang AS di negaranya. Di berbagai kesempatan, Duterte mengatakan Filipina dalam dua tahun ke depan akan bebas dari tentara Amerika Serikat. Duterte juga ingin menghapuskan pakta kerjasama di bidang pertahanan kedua negara. Atas sikap tegas ini, oleh AS dianggap mengancam kepentingannya di kawasan itu. Duterte juga mengatakan akan menghentikan kerja sama pertahanan dalam bentuk latihan gabungan militer kedua negara yang rutin dilakukan setiap tahun.

Sikap tegas Duterte ini membuat AS mengambil langkah strategis guna membuat situasi Philipina memanas. Indikatornya, saat ini ada pasukan khusus AS di beberapa bagian Filipina, terutama di Mindanao Selatan. Keberadaan AS guna ikut terlibat dalam operasi pemberantasan terorisme. AS menganggap bahwa ISIS telah memasuki wilayah Philipina sehingga harus ditumpas keberadaannya agar tidak menciptakan kekacauan. Kondisi inilah yang membuat ketegangan dan ancaman keamanan meningkat karena bersitegang dengan kelompok separatis.
Bagi AS, kekacauan dan situasi memanas di Philipina sangat menguntungkan dirinya dalam dua hal. Pertama, ketika situasi Philipina memanas karena ancaman separatis dari kelompok Islam, maka ada peluang bagi AS untuk tetap bercokol di negara ini. Kedua, AS juga memiliki peluang untuk mengerdilkan atau membasmi kekuatan para separatis, yang tidak lain adalah umat Islam. Dengan kata lain, AS sedang melakukan politik “sambil menyelam minum air” dimana mereka tetap ingin bercokol di wilayah Philipina, sehingga bisa leluasa dalam menghancurkan kekuatan Islam dengan menggunakan isu ISIS.

ISIS dan Boneka AS Untuk Memerangi Islam

Sudah menjadi pandangan umum bahwa ISIS bukan berdiri sendiri tetapi merupakan boneka bentukan AS. ISIS merupakan rekayasa AS untuk menciptakan kekacauan di suatu negara yang dianggap mengganggu kepentingannya. Dengan masuknya ISIS di suatu negara, maka akan melegalkan AS untuk masuk dengan dalih untuk menciptakan perdamaian di negara-negara yang sedang mengalami pergolakan. Kalau selama ini Mindanao, Philipina dalam kondisi aman dan terkendali, meski ada pergolakan Islam bangsa Moro untuk mewujudkan cita-citanya dalam menjalankan syariat Islam, namun tiba-tiba muncul pergolakan karena di dalamnya terindikasi ditopang oleh ISIS. Fenomena ini juga pernah terjadi di Irak atau Suriah, dimana ISIS dihembuskan masuk ke wilayah itu dan merusak berbagai fasilitas publik hingga mengancam akan merebut kekuasaan. Isu ISIS menjadi pintu masuk atau pembenar bagi AS, dengan dalih menghancurkan ISIS guna memulihkan keadaan, padahal ujungnya untuk menciptakan hegemoni di negara itu.

Apa yang terjadi di Philipina merupakan bentuk perulangan dari penghancuran Islam oleh negara tersebut, dimana Philipina dulunya mayoritas muslim, harus dihancurleburkan. Proses deislamisasi terus dilakukan oleh penguasa Philipina hingga Islam mengalami marginalisasi. Sepanjang sejarah Philipina, selalu ada gerakan perlawanan yang dilakukan oleh umat Islam untuk menunjukkan eksistensinya namun mengalami kegagalan karena ditekan oleh pemerintah. Gagasan mendirikan negara Islam inilah yang terus membara di tengah tekanan pemerintah Philipina. Potensi mengembalikan eksistensi Islam di Philipina inilah yang dimanfaatkan oleh AS, dengan menyisipkan kelompok ISIS, guna mensupport kelompok-kelompok Islam untuk melawan negara.
Gerakan mendirikan negara Islam ini, tentu saja mengganggu dan mengancam stabilitas Philipina, hingga Duterte menyatakan negaranya dalam keadaan darurat. Masuknya ISIS yang menyusup dalam barisan kelompok Islam militan ini seolah menjadi bola liar yang dimainkan oleh AS guna ikut campur untuk membasmi kelompok ISIS ini. Dalam konteks ini, pemerintah Philipina harus meredam gejolak dengan mengirim pasukan untuk menjinakkan gerakan dari kelompok militan Islam. Munculnya ISIS merupakan rekayasa AS menyusul kebijakan Duterte yang telah melakukan dua kebijakan yang merugikan kepentingan ekonomi dan militer AS. Sekali lagi, ISIS hanyalah sebagai pintu masuk bagi AS untuk tetap berada di kawasan Philipina untuk tetapi menghegemoninya.

Apa yang terjadi di Philipina merupakan potret buram politik AS yang senantiasa menciptakan hegemoni di negara lain guna mengeksplotasi ekonomi untuk memperkaya negaranya. Menciptakan ancaman untuk mencapai tujuan, merupakan hal yang sah bagi AS agar tetap bercokol di Philipina. Namun dalam perjalanannya, Philipina merasa kerjasama ini lebih banyak merugikan negaranya dan menguntungkan AS. Ketika Duterte mengambil langkah tegas terhadap bandar dan pengguna narkoba, dan ingin menghentikan kerjasama militer, maka AS langsung bereaksi secara keras, dengan menciptakan kekacauan di Philipina. Pada saat yang sama, AS juga berkesempatan untuk menghancurkan kekuatan Islam. Inilah realitas kejahatan politik AS terhadap Philipina dan Islam.

Surabaya, 1 Juni 2017
*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here