Halusinasi Kelompok Minoritas

0
396

*Dr. Slamet Muliono

Saat ini muncul klaim bahwa kelompok minoritas adalah kelompok yang paling Pancasilais dan cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan kemudian berbalik menuduh umat Islam sebagai kelompok yang membahayakan dasar negara dan memecah belah bangsa Indonesia. Kelompok minoritas seolah merupakan kelas sosial yang paling Pancasilais dan cinta NKRI, serta memiliki andil yang dominan dalam negara dan bangsa ini. Walaupun kiprah mereka dalam merebut dan mempertahankan NKRI, dari tangan penjajah tidak tercatat dalam sejarah. Bahkan kiprah mereka justru berada di pihak penjajah untuk membantu runtuhnya bangsa ini.

Ketika kemerdekaan telah direbut lewat perjuangan kaum muslimin, serta perdebatan tentang ideologi negara melalui perdebatan yang sangat panjang dari tokoh nasionalis dan Islam, maka lahirlah Pancasila. Anehnya, kelompok minoritas yang tidak banyak berkiprah dalam kemerdekaan dan perumusan Pancasila, justru paling banyak menikmati hasil pembangunan. Sementara umat Islam justru termarginalkan dan menjadi bulan-bulanan, serta tersingkir dari panggung politik. Bahkan kelompok minoritas bukan hanya menikmat aset-aset dan sumber daya ekonomi tetapi justru menguasai serta berupaya mengingkirkan umat Islam dari panggung ekonomi. Ketika panggung ekonomi dikuasai, mereka mulai melirik untuk menentukan kebijakan-kebijakan politik, serta memonopoli dalam menafsirkan Pancasila dan cara berbangsa dan bernegara.

Islam dan Kebangsaan
Suara-suara sumbang yang semakin lantang dan berkoar-koar untuk menunjukkan dirinya sebagai orang yang paling Pancasilais dan paling cinta NKRI, sebagaimana yang diklaim oleh kelompok minoritas, merupakan halusinasi. Sejarah kemerdekaan Indonesia yang diperoleh dengan keringat dan darah, seolah bukan kerja dan perjuangan umat Islam. Kelompok minoritas tidak lagi peduli tentang rendahnya kontribusi mereka dalam negara ini, tetapi klaim mereka seolah memiliki andil yang besar dalam menentukan perjuangan merebut kemerdekaan, serta menentukan ideologi negara.

Belum cukup, kelompok non-muslim justru merekayasa tuduhan baru bahwa umat Islam yang dianggap memperjuangkan agama, tanpa memperhatikan kelompok lain, sehingga patut dicurigai sebagai penghancur bangsa dan negara Indonesia. Hal ini bukan hanya pemikiran keji tetapi sangat jahat dan menista umat Islam. Penanaman opini ini demikian sistematis untuk menggiring pandangan masyarakat bahwa umat Islam sedang berupaya untuk mengganti ideologi negara yang dianggap bertentangan dengan Islam. Bahkan ada tuduhan kebablasan yang menyatakan bahwa umat Islam ingin mengganti penguasa. Indikatornya adalah tumbuhnya gerakan umat Islam yang sangat kritis kepada pemerintah.

Pandangan ini jelas mustahil. Tidak mungkin umat Islam merongrong bangsanya sementara merekalah yang mempertahankan bangsanya dari penjajahan bangsa asing. Pemikiran, tenaga, dan darah telah dipersembahkan umat Islam tanpa mengenal lelah guna mewujudkan kemerdekaan bangsa, maka sungguh naif apabila umat Islam menghancurkannya secara sia-sia. Sangat sulit dinalar bila umat Islam yang telah berusaha keras dalam merumuskan ideologi Pancasila sebagai dasar negara, namun tiba-tiba mengkhianatinya dengan menggantinya dengan ideologi lain.

Halusinasi Kelompok Minoritas
Omong kosong ini hanyalah lelucon dan halusinasi dari kelompok minoritas yang merasa memiliki jasa paling besar terhadap negeri ini, serta ingin menuduh umat Islam sebagai kelompok yang sangat berbahaya bagi negara. Tuduhan terhadap umat Islam ini mengemuka dan massif seiring dengan kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta lalu. Awalnya, berbagai cara dilakukan oleh kelompok minoritas untuk memenangkan Ahok, mulai dari cara yang halus-tersembunyi hingga kasar-terbuka. Namun upaya mereka gagal setelah umat Islam bersatu dengan kesadaran bersama, dengan Aksi Bela Islam, untuk melawan penoda agama dan pemecah belah elemen bangsa ini.
Tuduhan umat Islam anti Pancasila dan anti Kebhinnekaan semakin massif setelah Ahok berhasil dipenjarakan. Bahkan upaya jahat berlanjut dengan mengkriminalisasi terhadap ulama. Kriminalisasi terhadap tokoh dan pemuka agama semakin massif menyusul terancamnya proyeksi dan impian mereka dalam mengatur negara. Ketakutan terganggunya aset ekonomi, yang telah mereka nikmati sejak era Orde Baru, merupakan faktor penentu melakukan penyudutan umat Islam.

Upaya untuk mengadu domba di antara umat Islam semakin terbuka dengan merekayasa adanya bahaya radikalisasi agama. Bom bunuh diri terjadi di beberapa tempat, dan dialamatkan kepada umat Islam dengan menggiring opini untuk meyakinkan publik bahwa pelakunya adalah umat Islam. Rekayasa ini tidak lain hanyalah untuk meyakinkan kepada dunia bahwa umat Islam sangat berbahaya bagi Pancasila, sehingga memberi justifikasi bagi aparat negara untuk bertindak semakin represif terhadap umat Islam.

Tindakan represif, baik secara fisik maupun simbolik, akan terus dilakukan untuk menekan umat Islam yang mulai berani kritis terhadap negara. Kriminalisasi ulama, mulai dari penahanan Muhammad Al-Khaththat karena aksi bela Islamnya, Alfian Tanjung karena mengungkap merajalelanya PKI, perburuan terhadap Habib Rizieq Shihab dengan kasus Chattingnya dengan Firza, pelaporan Amien Rais karena menerima suap, terus dilakukan untuk membenarkan sangkaan bahwa umat Islam merupakan warga yang membahayakan negara. Semua proses kriminalisasi ulama itu tidak lain adalah skenario besar untuk membunuh karakter umat Islam yang dianggap berbahaya bagi negara.

Ucapan kelompok minoritas, yang merasa paling Pancasilais dan cinta NKRI, hanyalah upaya untuk menutupi perilaku mereka yang selama ini telah mengeksploitasi sumberdaya ekonomi Indonesia. Bukannya melakukan pertobatan sosial tetapi justru menuduh pihak lain (umat Islam) sebagai kelompok yang membahayakan negara. Padahal kelompok minoritaslah yang melakukan penghancuran negara, baik dengan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia dan memecah belah berbagai elemen masyarakat Indonesia.

Surabaya, 7 Juni 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here