Slogan NKRI-Pancasila Jadi Tunggangan Politik Menekan Umat Islam

0
339
Suasana kajian di dalam masjid As-Sunnah Cirebon
Suasana kajian di dalam masjid As-Sunnah Cirebon

*)Dr. Slamet Muliono

Seolah tak kehabisan akal, berbagai kelompok anti Islam terus berupaya mendiskreditkan umat Islam dengan mereproduksi berbagai isu untuk memojokkan Islam. Umat Islam seolah menjadi musuh yang harus disingkirkan, karena dianggap kelompok masyarakat yang berbahaya. Bahkan pada puncaknya, umat Islam dianggap membahayakan eksistensi bangsa dan negara. Isu dan fitnah terus diciptakan guna menguatkan opini bahwa umat Islam sangat membahayakan negara. Opini yang belakangan ini sangat gencar adalah umat Islam merupakan ancaman bersama atas ideologi negara. Kalau era Orde Baru, umat Islam dianggap sebagai kelompok berbahaya karena diisukan menolak Pancasila sebagai asas bernegara, maka saat ini umat Islam dianggap sebagai ancaman karena ingin mengubah ideologi negara, Pancasila, dan merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Satu-satunya jawaban mengarah kepada adanya kepentingan politik, yang terselubung guna menyudutkan dan menghancurkan umat Islam.

Umat Islam dan Subversif : Sebuah Setting Sejarah
Kalau era Orde Baru, ketika umat Islam dianggap musuh negara, maka isu subversif dilekatkan kepada umat Islam. Isu dan fitnah diskenario bahwa umat Islam menolak Pancasila sebagai asa bernegara. Atas kecurigaan itu, diperkuat dengan berbagai bukti adanya beberapa ormas Islam yang tidak menempatkan Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara. Ujung dari isu yang digelindingkan itu muncullah kebijakan politik untuk membubarkan organisasi-organisasi Islam yang menolak asas Pancasila. Tentu saja kebijakan itu ditentang oleh tokoh dan ulama Islam. Atas penolakan itu, maka muncul teror dengan menangkap tokoh dan ulama Islam yang dicurigai kukuh dengan Islam dan menolak Pancasila.

Ketika opini terbentuk bahwa umat Islam menolak Pancasila dan ditangkap dan dipenjarakannya tokoh Islam, maka Pancasila benar-benar sebuah ideologi yang bertentangan dengan Islam. Buktinya bahwa umat Islam lebih mengedepankan Islam sebagai asas benegara daripada Pancasila. Oleh karena itu, banyak kita jumpai pada era Orde Baru, beberapa ormas Islam mengalami tekanan dan harus rela dibubarkan karena membahayakan eksistensi Pancasila. Musuh-musuh Islam benar-benar berhasil mencitrakan umat Islam sebagai kelompok laten yang membahayakan ideologi negara. Oleh karena itu, tidak heran jika umat Islam tidak lagi leluasa untuk menyampaikan aspirasi Islamnya ketika diopinikan sebagai kelompok subversif, dan aparatur negara diperalat untuk menindaknya.

Fakta di atas membenarkan bahwa musuh-musuh Islam benar-benar memainkan isu bahwa Islam adalah musuh negara karena menolak Pancasila dan lebih mendahulukan Islam sebagai asas bernegara. Dengan kata lain, kelompok anti Islam benar-benar leluasa dan berhasil menciptakan opini bahwa Islam bertentangan dengan Pancasila. Padahal Pancasila adalah sebuah ideologi bernegara yang dilahirkan oleh tokoh-tokoh Islam dalam merespon bagaimana menata dan mengatur kehidupan bernegara. Tetapi kelompok anti Islam berhasil mengubah opini dengan membuat thesis baru yang justru menuduh umat Islam ingin memusnahkan Pancasila dan menjadi ancaman negara.

NKRI-Pancasila dan Isu Wahabi-Radikal
Sejarah seolah berulang, baik gagasan maupun opini yang terus dibangun bahwa umat Islam adalah kelompok yang membahayakan NKRI dan ancaman bagi Pancasila. Tidak berbeda dengan cara-cara Orde Baru, kelompok kepentingan yang memiliki motif terselubung dan jahat itu, berupaya menggandeng kelompok Islam tradisionalis untuk melakukan tekanan politik terhadap umat Islam. Kecurigaan terhadap umat Islam yang membahayakan negara juga diciptakan. Bahkan umat Islam yang sedang membangun spirit agama yang baik pun tidak luput dari isu miring dan menakutkan. Tuduhan radikal dan intoleran terus diblow up guna membidik Islam sebagai ancaman negara.

Bahkan “wahabi” disematkan untuk memperkuat tuduhan bahwa banyak muncul kelompok-kelompok Islam yang membahayakan dan menjadi ancaman negara. Fenomena pembubaran pengajian yang dianggap kelompok intoleran semakin menjamur. Mereka menggandeng dan memprovokasi aparat kepolisian untuk membubarkan umat Islam yang menyelenggarakan pengajian.

Pembubaran pengajian dengan alasan bahwa kelompok ini membahayakan negara karena mengajarkan kekerasan. Bahkan pengawasan terhadap kelompok yang dianggap sesat dan intoleran itu merambah kepada lembaga-lembaga pendidikan dan pesantren yang dianggap memiliki keterkaitan dengan kelompok radikal. Tidak sedikit lembaga pendidikan dan pesantren harus mengalami kesulitan dalam memperoleh ijin operasional karena dianggap memiliki keterkaitan dengan ideologi wahabi.

Bahkan tidak sedikit sekelompok umat Islam harus membatalkan pembangunan masjid, karena ada penolakan dari sekelompok masyarakat (Islam) yang menganggap bahwa masjid yang akan dibangun dicurigai akan menyemai bibit-bibit radikalisme. Penolakan terhadap masjid, yang dianggap milik kelompok radikal, terus dilakukan dengan menggandeng para birokrat dan aparat keamanan agar digagalkan karena dianggap membahayakan negara dan ancaman bagi Pancasila.

Saat ini, umat Islam harus menghadap berbagai tuduhan dan tudingan yang mengarah kepada Islam sebagai ancaman. Kalau sebelumnya umat Islam harus membuang energi untuk membela para tokoh dan ulama yang dikriminalisasi karena dianggap melawan negara. Maka saat ini umat Islam mengalami tekanan. Kelompok kepentingan terus berupaya menjual isu bahwa umat Islam sebagai ancaman NKRI dan Pancasila. Berbagai fakta diciptakan guna memperkuat opini yang sedang dibangun bahwa umat Islam sedang menjadi ancaman NKRI dan Pancasila.

Diakui atau tidak bahwa perkembangan dakwah Islam demikian luas, bukan hanya di perkotaan, tetapi merambah ke pinggiran kota hingga pegunungan. Namun perkembangan Islam yang demikian besar sulit dibendung, sebagaimana sulitnya membendung turunnya air hujan. Hanya jalan pintas yang dilakukan oleh kelompok kepentingan untuk membendung arus dakwah Islam yang menyebarkan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh nabi dan para sahabatnya. Kewaspadaan terhadap kelompok radikal, intoleran, dan anti kebhinnekaan terus diproduksi, yang ujungnya adalah menghancurkan eksistensi umat Islam di Indonesia. Dengan kata lain, waspada terhadap wahabi dan aliran radikal hanyalah sebuah isu yang diproduksi untuk menghentikan dakwah Islam yang mulai dirasakan umat Islam sebagai agama yang benar dan lurus.

Surabaya, 22 Juni 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here