Keagungan Al-Qur’an dan Pembongkaran Watak Dasar Bani Israil

0
322

(Renungan Idul Fitri 1438 H)
*Dr. Slamet Muliono
Al-Qur’an senantiasa mengingatkan kepada umat Islam untuk senantiasa membesarkan dan mengagungkan Allah seiring dengan kemenangan yang telah diraihnya. Seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan dan datangnya Idul Fitri, umat Islam merayakan kebahagiaan dengan bertakbir dan membesarkan nama Allah karena telah melaksanakan ibadah agung di bulan suci yang baru saja lewat. Pengagungan nama Allah bukan hanya menempatkan Allah pada tempat yang mulia, tetapi merupakan cara untuk menutup celah dan menghindarkan diri dari sikap sombong. Al-Qur’an mengajarkan kepada manusia untuk tetap bersikap rendah hati atas kenikmatan yang telah diraihnya tanpa harus melupakan hidayah Allah. Disadari atau tidak bahwa keberhasilan itu atas usaha dan jerih payah manusia, sehingga memungkinkan manusia untuk menyisihkan peran Allah ketika merayakan kemenangan.

Al-Qur’an dan Keagungannya
Al-Qur’an bukan hanya kitab yang memberi petunjuk dan arah untuk berbuat kebaikan, tetapi juga kitab yang memberi panduan untuk menghindari berbagai keburukan yang menimpa diri manusia. Al-Qur’an merupakan kitab yang agung tanpa cacat atau salah sebagaimana yang dikatakan Allah dalam firman-Nya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa : 82). Sebagai kitab yang agung, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk merenungkan isi dan kandungan Al-Qur’an, sebagai sarana membuka hati dan pikiran secara jernih. Tanpa merenungkan dan mengkaji isi Al-Qur’an berpotensi besar dalam mengunci mata hati manusia, sebagaimana dalam Firman-Nya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci (QS. Muhammad : 24).

Al-Qur’an merupakan kitab yang mengingatkan hari pertanggungjawaban, secara individu, yang akan menempatkan dirinya pada salah satu tempat, surga atau neraka. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an : “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.” (QS. Syura : 7)

Al-Qur’an dan Pembongkaran Watak Yahudi

Salah satu di antara keagungan Al-Qur’an adalah membongkar seluruh karakter dan watak buruk yang melekat pada orang-orang Yahudi. Sifat buruk itu adalah menentang kebenaran dan selalu menyelesisihi petunjuk Allah. Dengan kata lain, Allah menjelaskan berbagai perkara yang diperselisihkan oleh orang Yahudi, sebagaimana firman-Nya :
إِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَقُصُّ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَكۡثَرَ ٱلَّذِي هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ٧٦
Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya (QS. An-Naml : 76).

Berikut akan dikutip beberapa penjelasan Al-Qur’an tentang sifat buruk orang-orang Yahudi, sehingga tercipta berbagai problem dan kerusakan di dunia ini. Pertama, pendusta dan pembunuh para nabi. Apa yang dibawa nabi selalu ditentang bila bertentangan dengan hawa nafsu mereka. Bahkan pendustaan dan berujung pembunuhan selalu dilakukan guna menunjukkan keseriusannya dalam menentang kebenaran. Sebagaimana firman-Nya : “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh (QS. Al-Baqarah : 87).

Kedua, menolak perintah nabi. Meskipun nabi mereka sudah meyakinkan akan memberi kemenangan atas jerih payah dan usaha mereka, namun orang Yahudi justru membantahnya dan menolak perintahnya, sebagaimana firman-Nya : “Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” (QS. Al-Maidah : 24)

Ketiga, kelompok yang bersegera dalam berbuat dosa dan permusuhan. Al-Qur’an justru menunjukkan sifat buruk yang memakan yang haram, sebagaimana firman-Nya : “Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. (QS. Al-Maidah : 62)

Keempat, pioner pemurtadan. Orang Yahudi selalu berusaha mengajak orang beriman untuk kembali murtad dan keluar dari agamanya, sebagaimana firman-Nya : “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 109)

Kelima, tamak pada kehidupan dunia dan ingin hidup lama. Al-Qur’an menggambarkan orang Yahudi sebagai orang yang menginginkan kehidupan yang panjang di dunia guna bersenang-senang dan menumpuk harta, sebagaimana firman-Nya : Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 96).

Banyak bertebaran dalam Al-Qur’an yang menjelaskan watak dasar dan sifat buruk orang Yahudi, serta berbagai usaha jahat yang demikian serius dalam menentang kebenaran dan membuat kerusakan di bumi. Disini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang selalu didustakan oleh orang Yahudi dengan berbagai cara. Al-Qur’an menjelaskan secara komprehensif dan deskriptif bagaimana strategi dan langkah orang Yahudi dalam menjerumuskan umat Islam untuk mengajak kerusakan bersama-sama.

Surabaya, 1 Syawal 1438 H / 25 Juni 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here