Siapa Pelaku Teror Terbanyak di Amerika Serikat? Ternyata Bukan dari Kelompok Muslim !

1
250
Petugas kepolisian menangkap Willie Corey Godbolt, yang ikut dalam penembakan di Lincoln County, Mississippi, 28 Mei 2017
Petugas kepolisian menangkap Willie Corey Godbolt, yang ikut dalam penembakan di Lincoln County, Mississippi, 28 Mei 2017

WASHINGTON (fokusislam) – Dalam beberapa tahun belakangan, aksi kekerasan yang terjadi di AS dan Benua Eropa kerap dialamatkan kepada komunitas muslim di wilayah tersebut. Tak heran, hal itu terjadi lantaran rasa ketakutan tak berdasar terhadap agama Islam atau yang lebih dikenal dengan istilah Islamophobia.

Namun, studi terbaru yang dikutip dari laman Independent justru menunjukkan bahwa kelompok muslim bukanlah mayoritas pelaku aksi teror. Kelompok yang menjadi pelaku teror terbanyak berasal dari kelompok ekstrem kanan.

Studi ini merupakan proyek gabungan Investigative Fund di Nation Institute dan Reveal from the Center for Investigative Reporting. Laporan mengambil sampel insiden aksi terorisme dalam jangka waktu 2008 sampai 2016.

“Hasilnya, kelompok ekstremis kanan di balik banyak insiden teror dengan jumlah hampir dua kali lipat dari aksi yang diasosiasikan dilakukan kelompok domestik ekstremis Islam,” tulis laporannya.

Laporan itu mengidentifikasi 63 insiden yang bermotifkan ideologi politik teokratik sebagaimana dilakukan gerakan ISIS. Dalam jangka waktu tersebut, di dalamnya ada kasus penembakan San Bernardino dan ledakan bom Maraton Boston.

Adapun kelompok garis keras kanan, termasuk gerakan Supremasi Kulit Putih, bertanggung jawab atas 115 serangan pada periode yang sama. Salah satu di antaranya yakni serangan di klinik kesehatan Colorado Planned Parenthood, demikian dikutip dari ROL, Rabu (28/7/2017).

Studi juga menemukan tindakan polisi terkait insiden yang melibatkan kelompok ekstremis Islam mencapai 76 persen. Sementara kelompok garis keras kanan hanya 35 persen.

Operasi tegas digunakan untuk mengatasi hampir setengah insiden yang dilakukan oleh kelompok radikal Islam. Jumlah ini lebih besar empat kali dibanding operasi yang dilancarkan ke ekstremis kanan maupun kiri.

Ihwal jumlah kematian, laporan menyebut aksi yang dilakukan ekstremis Islam mencapai 90 korban tewas. Lebih besar dari garis keras kanan 79 orang.

Namun dari tingkat persentase aksi yang menyebabkan kematian, kelompok aksi ekstremis kanan lebih besar mencapai 33 persen dibanding radikal Islam 13 persen.  Laporan ini sekaligus menampik kebijakan Presiden AS Trump yang cenderung fobia dengan kelompok Islam.

Shirin Sinnar, profesor dari Universitas Standford mengatakan, efek dari kebijakan anti-Muslim dan retorika antiimigran pemerintahan Trump telah menyebabkan kekerasan oleh kelompok Supremasi Kulit Putih terhadap, Muslim, imigran, atau warga lain yang berbeda warna kulitnya. (azman)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here