Mirip Jogokariyan Jogja, Masjid Keren Ini Ada di Lamongan

0
993

LAMONGAN (fokusislam) – Menjadikan masjid sebagai pusat peradaban telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para sahabatnya. Di zaman terdahulu, masjid tidak hanya sebagai tempat peribadahan, tetapi memiliki banyak fungsi keumatan.

Dewasa ini, Indonesia mengenal Masjid Jogokariyan Jogja sebagai salah satu masjid yang benar-benar “dimakmurkan”. Jamaah yang membludak, serta pengelolaan masjid yang profesional menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Kini, ada lagi masjid yang mirip-mirip dengan Jogokariyan dari pengelolaan dan banyaknya jumlah jamaah. Namanya masjid Namira, yang berlokasi di di desa Jotosanur, kecamatan Tikung, Lamongan Jawa Timur.

Salah seorang pengguna Facebook bernama Among Kurnia Ebo, dalam status yang diunggah Jumat (30/7/2017) menuliskan kekagumannya. Menurutnya, Masjid yang ada di kotanya tersebut sangatlah “keren”.

“Namira memang masjid yang beda, Jamaahnya selalu membludak. Kalau Salat Subuh jamaahnya bisa sampai seribu orang. Paling dikit 500 orang dari banyak penjuru desa. Habis itu jamaah diberi sarapan gratis,” tulis Among Kurnia Ebo.

Selama bulan puasa, kaum muslimin juga banyak mengambil manfaat dari keberadaan Masjid Namira.

“Pas puasa menyediakan makanan gratis sampai 2000 pax untuk buka puasa dan sahur siapa saja yang datang,” tambahnya.

Guna merangkul generasi muda dan anak-anak kecil, ada pula fasilitas yang disediakan.

“Masjid ini juga jadi lokasi “kongkow” anak anak muda. Kalau janjian ketemu mereka akan memilih ke Namira lalu mendiskusikan kegiatannya di sana. Anak anak kecil pun disediakan tempat bermain yang aman untuk memberikan ingatan masa kecil bahwa masjid adalah tempat yang asik,” tulisnya lagi.

Dalam hal pengelolaan uang infak, Masjid Namira ini mirip-mirip dengan Jogokariyan

“Prinsipnya dasyat: Uang sedekah jamaah harus kembali ke jamaah secepatnya. Kami takmir malu kalau uang jamaah menumpuk di kotak infak. Kalau bisa saldo infak itu Nol rupiah. Yang artinya takmir masjidnya kreatif karena berarti selalu punya program untuk jamaah,” tambahnya.

Acara pengajian diberikan dengan pemateri yang berbeda setiap bulannya. Bagi jamaah yang hendak beri’tikaf pun ada fasilitasnya.

“Buka 24 jam untuk musafir, boleh rehat dan tiduran di teras, bagi yang iktikaf disediakan kawasan tenda untuk menginap tidur, makanan sahur melimpah, free wifi sepanjang hari, daya tampung parkir mencapai 400 mobil, dan tiap minggu selalu mendatangkan penceramah baru dari berbagai kota,” tulisnya.

Semoga semakin banyak masjid-masjid seperti ini di Indonesia. (azman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here