Bukan Hanya Ustadz, Ada Juga Ustadzah Indonesia Yang Mengajar di Masjid Nabawi

0
2000
Ustadz Firanda saat mengisi ceramah di Masjid Nabawi
Ustadz Firanda saat mengisi ceramah di Masjid Nabawi

JAKARTA (fokusislam) – Bagi masyarakat Indonesia yang sedang berada di tanah suci, bisa mendengar ceramah berbahasa Indonesia dari putra bangsa merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Ada dua ustadz asal Indonesia yang menjadi pengajar di Masjid Nabawi yaitu Ust Dr Firanda Andirja dan Ust Dr Abdullah Roy.

Selain kedua nama tersebut, ada nama lainnya yang juga menjadi pengajar di Masjid Nabawi. Bukan seorang ustadz, namun seorang ustadzah. Berikut tulisan yang disalin Redaksi Fokus Islam dari Fanspage One Heart Zainal Abidin, Selasa (11/7/2017).

========================================

Tulisan tentang profil Ustadzah ini sengaja saya buat khususnya untuk bekal informasi bagi para jamaah haji Indonesia yang insya Allah akan mulai datang ke tanah suci dalam dua pekan mendatang.

Ustadzah wanita Indonesia di Indonesia tentu banyak kita kenal. Tetapi ustadzah wanita Indonesia di Masjid Nabawi Madinah al Munawarah Arab Saudi mungkin belum pernah kita kenal. Bagi masyarakat Indonesia yang bermukim di kota Madinah al Munawarah sosok ini memang sudah tidak asing lagi, karena selain sudah lama tinggal di tanah suci, sudah 41 tahun, juga menjadi sesepuh tempat meminta petuah.

Suraiya Syafei Guman, itulah nama lengkapnya, atau warga Indonesia di Madinah lebih suka memanggilnya dengan nama Uni Soraya, karena urang awak ini berasal dari Padang. Sehari-harinya dulu Uni Soraya adalah dosen di Fakultas Psikologi Universitas Taibah, Universitas negeri terbesar di provinsi Madinah yang memiliki ribuan mahasiswa tersebar di berbagai fakultas seperti fakultas teknik, ekonomi, ilmu pendidikan, keperawatan dan kedokteran dengan beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi. Uni Soraya menjabat sebagai dosen tetap dan hanya mengajar mahasiswi saja. Tentu ada mahasiswa juga di universitas ini, tetapi di Arab Saudi terdapat pemisahan tempat belajar dan guru/ dosen untuk para siswa dan siswi mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Tidak ada interaksi antara pelajar pria dan wanita di segala tingkatan pendidikan. Semua pelajar ini tidak dipungut biaya pendidikan malah diberi beasiswa oleh pemerintah, untuk tingkat universitas setiap mahasiswa diberi jatah 1000 real per bulan.

Selain sebagai dosen di Universitas Taibah pada pagi hari, (sekarang Uni sudah pensiun dari Universitas Taibah sejak dua tahun yang lalu)), setiap sore Uni Soraya juga menjadi ustadzah di Madrasah ‘Amir, sebuah tempat pendidikan bagi para guru wanita tahfidz al Qur’an (para penghafal Qur’an) dan juga menjadi guru al Qur’an di dalam kompleks Masjid Nabawi. Sudah banyak wanita yang dibimbingnya berasal dari berbagai negara dengan variasi usia dari remaja hingga usia nenek-nenek. Untuk menjadi ustadzah di tempat ini tentu saja salah satu syaratnya adalah mampu membaca al Qur’an dengan tajwid yang benar dan hafal di luar kepala seluruh isi al Qur’an 30 juz secara lengkap dan sudah mendapat sanad. Sanad maksudnya cara membaca al Qur’an sudah teruji persis sama / sesuai dengan gurunya turun temurun yang berurut ke atas hingga sampai kepada Rasulullah SAW.

Aktivitas lainnya yang selalu dijalani Uni Soraya di Masjid Nabawi adalah memberi ceramah kepada para jamaah umroh atau jamaah haji yang berasal dari rumpun melayu asia tenggara antara lain Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand dan Brunei dengan bahasa melayu atau bahasa Indonesia tentang Islam, tentang tanah haram dan Masjid Nabawi dan masalah seputar umroh dan haji.

Di tengah-tengah kesibukannya yang padat itu Uni Soraya juga tetap “entengan” untuk diminta memberi ceramah bagi masyarakat Indonesia di Madinah atau memberi konsultasi agama bagi yang memintanya secara pribadi.

Tetap hangat dan akrab walaupun usianya sudah tidak lagi muda, nenek tiga cucu ini dilahirkan di Padang pada tanggal 5 Oktober 1951 dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya Buya Syafei Guman adalah seorang da’i tamatan Kulyatul Muballighin Paralek sedangkan ibunya Shafiah Umar tamatan Madrasah Diniyah Putri Yayasan Rahmah el Yunusiah. Uni Soraya adalah salah satu dari 4 bersaudara, yang semasa kecilnya bercita-cita ingin jadi perawat dengan tekad untuk dapat belajar di sekolah perawat Muhammadiyah di Jogjakarta tetapi tidak disetujui keluarganya karena melihat umumnya pakaian seragam perawat pada masa itu tidak menutup aurat.

Selepas SD di Tabing Padang oleh orangtuanya Uni Soraya melanjutkan pendidikan ke PGAN (sekolah guru agama Islam setingkat SMP dan SMA) dimana ia selalu mendengar dan melihat sosok Prof. Dr. Zakiyah Darajat (alm) seorang ustadzah terkenal saat itu yang sering tampil di RRI / TVRI dan acara-acara keagamaan di Indonesia. Dalam benaknya mulailah tertanam keinginan untuk mengikuti jejak beliau yang diidolakan Uni Soraya saat remaja. Tamat PGAN di Bukittinggi Uni Soraya melanjutkan ke Fakultas Dirasat Diniyah Putri sampai akhirnya ia medapatkan beasiswa untuk belajar di Fakultas Psikologi Universitas Al Azhar Kairo Mesir, sebuah perguruan tinggi Islam terkemuka di dunia hingga saat ini. Uni soraya menempuh pendidikan Sarjana S1 hingga mendapat gelar Lc di Universitas Al Azhar dari tahun 1972 hingga September 1976, waktu yang cukup singkat untuk merampungkan derajat strata 1 saat itu di universitas bertaraf internasional karena intelegensianya dan kemampuannya berbahasa Arab dan Inggris.

Setelah itu Uni Soraya mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai petugas haji di Madinah al Munawarah yang mempertemukannya dengan Nasri Ilyas Amin, urang awak juga, alumni Universitas Islam Madinah yang kemudian mempersuntingnya pada 29 Januari 1977. Maka mulailah babak baru kehidupan Uni Soraya yang sejak kecil sudah terbiasa merantau ini untuk menetap di kota suci umat Islam Madinah al Munawarah sampai sekarang. Segera setelah menikah tawaran menjadi guru dari lembaga pendidikan Islam di Madinah berdatangan untuk Uni Soraya. Mula-mula ia menjadi guru al Qur’an di Ma’had al Jahrih yang dimiliki Syekh Abdul Aziz Daqil. Hingga ia mendapat tawaran untuk membantu mengajar al Qur’an di Universitas Taibah Madinah di awal pembentukannya di tahun 1980 sampai kemudian Uni Soraya diangkat menjadi dosen tetap di Fakultas Psikologi pada tahun 1984.

Dari pernikahannya dengan Ustadz Nasri Ilyas Amin MA (almarhum meninggal pada 7 Desember 2003) yang kemudian menjadi dosen di Universitas Kebangsaan Malaysia Kuala Lumpur Malaysia Uni Soraya dikaruniai empat orang anak. Tiga cucunya didapat dari putra sulungnya Mujahid Nasri Ilyas alumni Universitas Kebangsaan Malaysia Kuala Lumpur yang kini bekerja sebagai anggota team Human Resources di Islamic Development Bank yang berkedudukan di Jeddah.

Uni Soraya sekarang tinggal di Wilayah Hayy Al Nahsr kota Madinah al Munawarah bersama putra keduanya Akram Mu’tashim Nasri Ilyas yang bekerja membantu dan melayani jamaah umroh dan jamaah haji dan putri bungsunya Shafiah Nasri Ilyas tamatan diploma Ma’had Al Qur’an & Sunnah Madinah yang juga bekerja sebagai guru tahfidz al qur’an mengikuti jejak ibundanya. Sementara putra ketiganya Umar Nasri Ilyas, bekerja di Proyek Kota Ekonomi Raja Abdullah di Madinah.

Di rumah yang teduh ditata apik dan bersih, bertata ruang khas apartemen orang Arab Saudi di Madinah dengan ruangan-ruangan sekitar 4×5 meter dan dua ruang tamu untuk tamu pria dan tamu wanita terpisah, Uni Soraya dan keluarganya sudah tinggal selama puluhan tahun. Seperti halnya pegawai asing lainnya di kerajaan Arab Saudi, Uni Soraya medapatkan fasilitas tunjangan untuk sewa rumah. Tentu bukannya Uni Soraya tidak ingin punya rumah sendiri di Madinah, tetapi peraturan pemerintah di sini yang tidak memperbolehkan orang yang selain warga negaranya untuk memiliki tanah dan rumah. Sementara di Indonesia rumah Uni Soraya berada di Tabing, Jln Prof. Hamka Kota Padang.

Selama menjadi dosen di Universitas Taibah tiap tahun Uni Soraya mendapatkan waktu 3 bulan cuti pada saat libur musim panas dan juga diberi tiket pesawat pergi-pulang untuk mudik ke Indonesia, tentu memakai pesawat Saudi Airline, bersama seluruh keluarganya. Pada saat cuti ini Uni Soraya memanfaatkan waktunya untuk mudik hampir setiap tahun ke Indonesia.

Hal lain yang diberikan oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi antara lain sekolah negeri yang memiliki fasilitas fisik sangat baik untuk anak-anaknya sampai setingkat SMA dan pengobatan di pusat pelayanan kesehatan atau rumah sakit milik pemerintah yang setingkat dengan kelas I untuk semua anggota keluarganya bila jatuh sakit.

Untuk menjadi ustadzah di Madrasah ‘Amir ini tentu tidak mudah, selain syarat hafidz, kemampuan akademik, akhlaq, juga wawasan pengetahuan Islam diperlukan. Bagi Uni Soraya semua hal itu dapat terpenuhi berkat gemblengan kedua orangtuanya yang memberinya bekal sejak kecil di samping latar belakang pendidikan formalnya dan modal hafalan al Qur’annya yang hampir lengkap sebelum menetap di Madinah. Bukan itu saja selama di Madinah dengan segala kesibukannya Uni Soraya juga tetap tekun belajar hingga menjadi hafidz al Qur’an lengkap 30 juz dan belajar tentang ilmu-ilmu al Qur’an hingga pada tahun 2001 mendapatkan ijazah Shihah Sanad Itshalu Sanad dari imam masjid nabawi yang dipimpin oleh Syekh Ibrahim al Achdar Aly al Qayim yang juga merupakan salah satu guru Qira’at Asyarah (sepuluh).

Kini setelah pensiun dari Universitas Taibah Uni Soraya tetap sibuk, pagi hari mengajar tahfidz dan melayani jamaah umroh dan haji di Masjid Nabawi, kemudian setelah shalat ashar hingga magrib mengajar tahfidz di Madrasah ‘Amir.

Bagi kaum muslimah dari negara rumpun melayu khususnya Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji, tentu akan berada di Madinah selama 9 hari, maka perlulah kiranya memanfaatkan waktunya untuk mendapatkan secercah ilmu dari keluasan dan kedalaman lautan ilmu Nyai Ustadzah Suraiya Syafei Guman.

✒ Ditulis dengan izin beliau, oleh Dr Djujan, dokter Indonesia mukim di Madinah, 10 juli 2017

(azman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here