Patung Kwan Kong dan Perang Asimetris

0
471

*)Dr. Slamet Muliono

Saat ini Tuban, Jawa Timur sedang berpolemik dan diramaikan dengan pembangunan patung Kwan Kong. Polemik pembangunan patung itu bukan hanya soal belum dikantonginya izin atas pembangunan patung itu, tetapi keberadaan patung itu dipandang sebagai bentuk penjajahan kultural Cina terhadap masyarakat Tuban. Patung Kwan Kong, yang dibangun setinggi 30 meter ini, merupakan tokoh atau panglima Cina yang pernah mencoba menaklukkan Tuban namun gagal dan terusir oleh keberanian tokoh lokal Nusantara.

Oleh sebagian masyarakat, berdirinya patung Kwan Kong tidak lebih merupakan bentuk kekuasan Cina yang sudah mencengkeram salah satu wilayah Indonesia. Wacana yang dikembangkan bahwa keberadaan patung itu merupakan simbol kebhinnekaan dan toleransi di antara budaya yang berbeda, namun bagi masyarakat yang lain memandang bahwa berdirinya patung ini merupakan bentuk penjajahan Cina yang dahulu yang pernah berkeinginan untuk menguasai negara ini.

Patung dan Simbol Penjajahan

Berdirinya patung Kwan Kong diwacanakan sebagai bentuk atau wujud kebhinnekaan budaya di tengah beragamnya kultur. Sebagai bentuk toleransi atas berbagai budaya, tanpa harus saling mematikan, maka berbagai simbol budaya boleh dilestarikan. Bagi masyarakat Cina, Kwan Kong merupakan simbol kepemimpinan yang memiliki keberanian dan kegagahan serta kepahlawanan dalam mengarungi dan melintasi berbagai negara guna melakukan penaklukan. Oleh karena itu, mereka mengabadikan kepahlawanan itu dengan mendirikan patung Kwan Kong. Bagi masyarakat Tuban, berdirinya patung itu bukan menunjukkan kebhinnekaan atau toleransi budaya, tetapi justru merupakan simbol penjajah yang dihadirkan setalah dahulu pernah gagal dalam penaklukan.

Sebagaimana tertulis dalam sejarah bahwa pada bulan Maret 1293 bala tentara Cina di bawah dinasti Yuan, yang dipimpin oleh Kwan Kong, mendarat di Tuban untuk memulai misi penaklukan Nusantara. Dengan kekuatan 20.000 tentara bersenjata meriam, yang termasuk teknologi tercanggih waktu itu, mendatangi Tuban. Hal ini sebagai misi untuk menaklukkan Nusantara. Mereka begitu yakin bisa mengalahkan Tuban, yang mana saat itu di bawah kekuasaan Singasari. Kaisar Cina saat itu, Kubilai Khan hanya bisa menggigit lidahnya sendiri karena berhasil dipukul mundur oleh Ranggalawe. Ranggalawe merupakan panglima perang Majapahit, orang kepercayaan Raden Wijaya. Setelah berhasil mengusir tentara Cina itu, Ranggalawe diangkat menjadi bupati pertama Tuban. Ranggalawe kemudian menjadi tokoh militer legendaris yang memiliki pribadi yang keras, namun sangat jujur dan setia.

Pembangunan patung Kwan Kong itu sama saja dengan penghinaan terhadap kepahlawanan dan ketokohan Ranggalawe yang pernah berhasil dalam mengusir penjajah, dalam hal ini Kwang Kong. Dengan kata lain, pembangunan patung Kwan Kong merupakan simbol penghinaan bangsa Indonesia atas Cina. Betapa tidak, kalau dahulu Ranggalawe begitu gagah berani menginjak-injak kehormatan Kwang Kong dan mengusir tentaranya. Maka ketika membangun patung Kwan Kong, seolah menunjukkan kepada dunia, bahwa saat ini Tuban telah ditaklukkan dengan mudah tanpa harus mengirimkan tentara ke Tuban.

Tak Tahu atau Buta Terhadap Sejarah

Kalau alasan pendirian patung Kwan Kong sebagai simbol pengakuan kebhinnekaan, merupakan sebuah toleransi yang kebablasan. Betapa tidak, sebuah patung yang merupakan simbol penjajah dan akan menaklukkan wilayahnya justru dibangun di atas tanahnya. Pendirian patung itu mencerminkan hilangnya kepekaan dan toleransi yang kebablasan. Andaikata Ronggolawe, yang pernah mengusir Kwan Kong, melihat patung itu tentu merasa dilecehkan dan direndahkan oleh bangsanya. Kalau untuk menghormati dan menjunjung tinggi kepahlawanan, justru Ranggalawe itu yang mesti dimunculkan guna membangkitkan spirit kebangsaan yang gagah berani dalam melawan penjajahan yang akan mendatangkan kesengsaraan dan kemiskinan pada rakyatnya.

Berdirinya patung itu tidak hanya mencerminkan telah hilangnya rasa kebangsaan terhadap tokoh yang lahir dari negerinya sendiri, tetapi justru menumbuhkan mental inlander (rendah diri) dengan membesarkan tokoh yang pernah berniat menginjak-injak harga diri bangsanya. Situasi seperti ini seolah membuka pintu penjajahan kultural. Hanya bangsa yang rendah dan hina saja yang akan mengabadikan musuh sebagai simbol kepahlawanan, sementara buta terhadap sejarah kepahlawanan yang telah dilakukan oleh putra bangsanya sendiri.

Etnis Cina telah berhasil menguasai sumber-sumber ekonomi dan memegang kendali politik di negara ini. Mereka ingin melengkapi penjajahan ekonomi dan politik dengan melakukan penjajahan kultural. Atas nama kebhinnekaan dan toleransi, mereka ingin melengkapi cengkeramannya dengan menancapkan kuku dan taringnya melalui penjajahan budaya.

Ketika sumber-sumber ekonomi dikuasai, kebijakan politik sudah berhasil dikendalikan, dan budaya dihegemoni, maka jatuhlah bangsa itu dan layak untuk disebut sebagai bangsa terjajah. Inilah sebenarnya perang proxy atau perang asimetris yang sesungguhnya. Perang asmetris inilah yang sedang dihadapi oleh negeri ini, dimana bangsa yang memiliki wilayah yang amat luas, sumberdaya manusia yang melimpah, sumberdaya alam yang seolah tak pernah habis, begitu mudah ditundukkan tanpa melalui peperangan fisik.

Kehancuran negeri ini diawali oleh lemahnya mental pengelola negeri ini. Mereka begitu mudah ditundukkan oleh kepentingan sesaat, dan menjual murah harga diri bangsanya dengan menggadaikan sumber daya ekonomi dan politik. Mereka membuka pintu lebar-lebar munculnya kolonialisme asimetris.
Jangan salahkan bila negeri ini hanya tinggal nama dikenal masyarakat dunia sebagai bangsa terjajah, karena anggota masyarakatnya menjadi budak dan pelayan para penjajah. Hal ini ditunjukkan ketika patung Kwan Kong berlanjut untuk didirikan, sekaligus buta terhadap Ranggalawe serta melupakan dan mengubur kepahlawanannya. Namun masyarakat Indonesia akan menyadari adanya ancaman bersama itu, dan siap melanjutkan perjuangan untuk melawan perang asimetris itu.

Surabaya, 13 Agustus 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here