Kemerdekaan Menurut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

0
149

Sobat, pada tanggal 17 AGustus 1945, bangsa kita tercinta berhasil memplokamirkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain, Jepang dan juga Belanda beserta sekutunya.

Hari tersebut tentu hari sangat bersejara dan keberhasilan yang ditorehkan nenek moyang kita wajib kita jaga. Kuwalat alias dosa besar bila kita mengkhianati bapak bapak kita yang telah menyuburkan negri kita dengan cucuran darah syahid dan tetesan peluh dan air mata perjuangan mereka. Warisan besar mereka, yaitu kemerdekaan harus kita jaga dengan darah, dan cucuran peluh serta air mata kita.

Banyak dari putra bangsa ini yang telah membuktikan kesetiaannya kepada bangsa ini, dan juga perjuangannya meneruskan kemerdekaan yang telah berhasil direbut dari tangan para penjajah.

Sobat menurut anda, apa sih sebenarnya kemerdekaan yang telah kita warisi ini? Apakah hanya sebatas perginya para penjajah dari negri kita tercinta ini? Tentu saja tidak demikian, kalaupun mereka pergi bisa jadi kaki tangan mereka masih malang melintang di negri kita tercinta ini.

Sobat, sebagai bangsa Indonesia dan sekaligus sebagai seorang yang bergama Islam, maka sepatutnya saat ini anda merenungkan kembali arti kemerdekaan yang telah kita warisi dari nenek moyang kita. Bisa jadi saat ini kita memiliki penafsiran dan pehaman yang berbeda beda tentang arti kemerdekaan, namun demikian ketahuilah bahwa gambaran kemerdekaan yang sejati jauhjauh hari telah disimpulkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam 8 hal:
1. Hidup tentram tanpa rasa kawatir karena memikirkan hari esok
Alias masa depan bangsa ini cerah, lapangan pekerjaan terbuka, layanan kesehatan tejamin, pendidikan maju, keamanan terjaga, hukum tegak dan kesempatan untuk mengukir masa depan terbuka lebar bagi semua rakyat negri ini.

2. Terbebas dari belenggu masa lalu.

Nenek moyang bangsa kita telah berjuang dan banyak dari mereka yang gugur dengan terhormat alias mati syahid. Walau mereka telah gugur berkalang tanah, namun semangat juang mereka terus membara di dada setiap pemuda penerus bangsa ini. Pembangunan bangsa bertonggakkan pada semangat dan keingininan luhur pendahulu bangsa ini. Apa yang telah ditorehkan oleh pendahulu bangsa ini, berupa semangat hidup mulia jauh dari penindasan, dan semangat juang yang tersurat dalam pekik takbir “Allahu Akbar” terus membahana dan menginspirasi generasi penerus negri ini.

3. Kebebasan mengekspolasi potensi dan segala kekayaan negri ini untuk kemajuan bangsa sendiri.

Negri kita telah mendapat karunia dari Allah Ta’ala berupa beraneka ragam kekayaan alam, sumber daya manusia, budaya dan lainnya. Kekayaan yang dimiliki negri kita sepatutnya menjadi sumber kekuatan dan kemuliayaan bangsa kita. Bangsa kita harus mampu tegak kepalanya di hadapan bangsa bangsa lain dengan bekal kekayaan dan sumber daya sendiri, bukan dari hasil mengeis kepada bangsa lain.

4. Jiwa Patriotik

Pendahulu negri kita telah mewariskan semangat juang dan jiwa patriotik untuk memerdekakan negri ini. Sepatutnya sebagai generasi penerus, semangat ini tetap kita warisi. Bila mereka berhasil mengusir penjajah dan mewariskan kemerdekaan kepada kita semua, maka sepatutnya sebagai penerus, kita mampu mengisi kemerdekaan dengan semangat yang sama tetap berkobar kobar dalam jiwa kita untuk membangun dan menjaga kemerdekaan ini. Sebagai generasi penerus, sepatutnya kita berjibaku untuk memanfatkan berbagai kekayaan alam, sumber daya manusia, budaya dan lainnya untuk membangun negri kita tercinta.

5. Kekayaan Negri Kita Adalah Milik Kita dan Untuk Kita.

Bila pendahulu negri ini rela mengorbankan jiwa, raga dan harta mereka demi terbebasnya negri ini dari penjajahan bangsa lain, maka saat ini sepatutnya kita juga rela mengorbankan segala yang kita punya demi kejayaan dan kemakmuran bangsa kita. Pembangunan, pendidikan, kesehatan, keamanan dan berbagai layanan haruslah kita upayakan dan wujudkan untuk masyarakat kita, berapapun harganya.

6. Hilangnya Rasa Takut.

Sebagai bangsa yang telah merdeka dan berdaulat, maka tidak ada yang patut kita takuti selain murka Ilahi. Bangsa manapun, dan kekuatan apapun tiada artinya, selama kita berada di atas kebenaran. Sebesar apapun kekuatan bangsa lain, tiada menggentarkan bangs aini, karena pendahulu negri kita telah membuktikan bahwa sekuat apapun kekuatan musuh, maka dengan izin dan pertolongan Allah dapat dikalahkan. Karena itu selama negri kita memperjuangkan agama Allah, dan membela agama Allah, niscaya tiada kekuatan yang patut untuk ditakuti selain kekuatan Allah Ta’ala.

7. Ekonomi kerakyatan.

Allah Ta’ala telah mengruniakan berbagai kekayaan kepada bangsa kita, kekayaan alam, sumber daya manusia, budaya dan lainya. Sudah sepatutnya bila kita mampu membangun negri ini tanpa harus berhutang. Sebagaimana para pejuang dahulu membiayai perjuangan mereka dengan kekayaan sendiri tanpa berhutang kepada asing, maka layakkah bagi generasi penerus untuk membangun kemerdekaan dengan megandalkan hutang asing? Dahulu penjajah dengan segala peralatan tempur mereka yang canggih, berhasil dikalahkan dengan swadaya masyarakat, maka akankah kini kita terus bergantung kepada asing dan aseng? Pantaskan bagi kita setiap kali hendak membangun infrastruktur atau lainnya, selalu mencari ulurangan tangan atau pinjaman dari negara asing atau lembaga asing? Mengapa kita tidak mampu meneladani semangat pendahulu bangsa kita, membiayai perjuangan dengan swadaya masyarakat. Semoga ke depan, berbagai peluang infestasi dan pembangunan, bangsa kita mampu untuk mencukupkan diri dengan membuka peluang investasi dari bangsa sendiri.

8. Kemandirian.

Merdeka alias bebas dari penindasan bangsa lain, baik penindasan fisik atau idiologi atau tekhnologi. Sepatutnya kebebasan fisik atau lahir yang telah diwariskan oleh para pejuang, kita lanjutkan dengan kemerdekaan dalam hal idiologi, politik, budaya, tekhnologi dan lainnya. Dengan demikian, kemerdekaan multidimensi benar benar terwujud bagi bangsa kita tercinta, bukan sekedar kemerdekaan yang bersifat parsial, merdeka secara fisik namun secara politik, budaya, idiologi dan lainya masih dibawah tekanan asing dan aseng.

Kedepalan dimensi kemerdekaan ini, dahulu selalu dipinta oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melalui doa yang selalu beliau panjatkan kepada Alah Azza wa Jalla.
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ, وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ, وَالْبُخْلِ وَالجُبْنِ, وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Betapa indahnya hidup anda andai kedelapan hal di atas dapat anda kuasai dan terapkan dalam ke-hidupan nyata, dan secara khusus dalam perniagaan anda. Saya yakin, kebahagian hidup dapat terwujud dan sukses dalam perniagaan juga dapat terealisasi.

Sungguh kegagalan bila saat ini anda merasa telah berhasil menjaga dan melanjutkan kemerdekaan bila ternyata yang merdeka hanya fisik sedangkan idiologi, politik, militer, tekhnologi dan lainnya masih dibawah intervensi bangsa lain. Sebagaimana kegagalan kita sebagai penerus bila ternyata saat ini kekayaan negri kita diperas untuk membangun negara lain, sedangkan kita hanya menerima ampasnya.

Semoga kemerdekaan yang seutuhnya segera terwujud bagi bangsa kita tercinta dan kita mampu menjadi penerus perjuangan para pendahulu bangsa kita tercinta ini. Merdeka! Allahu Akbar.

Abu Hijroh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here