Ateisme dan Koalisi Menghancurkan Negeri-Negeri Islam

0
219

*)Dr. Slamet Muliono

“Organisasi ini berdiri bukan untuk mengganggu atau menjadi ancaman negara lain. “Ateis diperlakukan seperti binatang padahal hanya berkumpul dan bercengkerama, lalu siapa yang mengganggu mereka.” (Armin Navabi, pendiri Republik Ateis)

Pernyataan Armin benar-benar membius bagi siapapun yang tidak mengetahui hakekat Ateisme yang sebenarnya. Betapa tidak, seolah memakai topeng humanisme, pendukung Ateisme (paham anti Tuhan) menebarkan pandangan kepada umat manusia di berbagai belahan dunia bahwa mereka bukanlah ancaman yang serius, tetapi justru merekalah yang sedang memperoleh gangguan dan diperlakukan seperti binatang. Mereka ingin menutupi hakekat mereka sendiri untuk berbuat kebebasan tanpa aturan yang merujuk pada agama. Apa yang nampak secara kasat mata, mereka memperjuangkan kebebasan manusia tanpa agama. mereka melihat bahwa berbagai belenggu yang menimpa manusia bersumber dari agama. Apa yang diungkapkan oleh Armin merupakan respon atas perlakuan pemerintah Malaysia yang menginvestigasi keberadaan kelompok Ateis.
Sebagaimana diberitakan bahwa pada awal Agustus tahun 2017, pemerintah Malaysia menginvestigasi keberadaan kelompok Ateis internasional. Hal ini menyusul munculnya pertemuan para anggota Ateis di negara Malaysia. Hasil pertemuan kelompok Ateis itu diketahui oleh publik menyusul diunggahnya foto-foto kelompok menyimpang itu melalui facebook. Pemerintah Malaysia memiliki aturan bahwa muslim Malaysia dilarang murtad dari agama Islam. Bila ada bukti penyimpangan, maka orang itu akan direhabilitasi, bahkan akan didenda atau dipenjara bila terbukti murtad dari Islam. Bagi pemerintah Malaysia, Republik Ateis yang berbasis di Kanada dianggap mengganggu kehidupan beragama di Malaysia, dan merupakan paham yang merusak Islam.

Ateisme dan Anti Norma Agama

Perkembangan Ateisme yang demikian massif pantas saja jika merisaukan siapapun yang memberi ruang berkembangnya agama. Hal ini sangat wajar, karena Ateisme merupakan faham pemikiran yang menginginkan kebebasan secara absolut tanpa campur tangan aturan yang bersumber dari agama. Agama dianggap sebagai pembelenggu dan pembunuh kebebasan manusia yang sebenarnya. Agama memang berisi perintah dan larangan. Agama di satu sisi memerintahkan untuk beribadah dengan melakukan ritual tertentu, seperti berdoa, berkurban, atau berperang. Sementara di sisi lain, agama melarang perjudian, perzinaan, Pembunuhan, atau pernikahan sejenis dan sebagainya. Ateisme menganggap bahwa berbagai aturan itu membelenggu manusia dan akan membatasi kebebasan manusia. Ketika manusia menginginkan sesuatu, dan agama melarangnya, maka keinginan itu dihentikan.

Dengan banyaknya perintah dan larangan, yang bersumber pada agama, membuat manusia sulit untuk mengekspresikan seluruh potensi dirinya secara maksimal. Mau bergaul bebas dengan lawan jenis tanpa nikah, maka dianggap melanggar agama. Sementara bergaul, bahkan nikah sesama jenis, muncul perlawanan yang dahsyat dari para agamawan.

Orang Ateis menganggap bahwa agama hanyalah belenggu yang mengkerdilkan pemikiran bebas manusia. Bahkan agama dianggap sebagai halusinasi manusia saja, yang sedang mengalami kekalutan dan problem yang tak terselesaikan. Di saat mengdapi problem yang tak terselesaikan itu, maka manusia lari mencari sublimasi. Sublimasi itulah yang disebut agama. Maka disinilah kesalahan mendasar kelompok Ateisme yang memandang semua agama sebagai sublimasi saja, sehingga harus segera ditinggalkan manusia.

Perlawanan Islam Terhadap Ateisme

Tidak ada agama yang secara gigih dalam memerangi Ateisme kecuali Islam. Ateisme berkembang dan tumbuh di tengah masyarakat yang sangat mengandalkan rasional. Sementara rasio manusia sangat terbatas, sehingga jawaban atas problem yang menimpa manusia tidak semua bisa dijawab oleh akal manusia. Oleh karena itu, pelampiasan atas berbagai kekacauan manusia itu mengambil jalan pintas. Orang yang frustrasi dan depresi, maka pergi ke night club dan menghabiskan malamnya dengan menenggak minum-minuman keras dan didampingi oleh pelayan-pelayan perempuan. Hal ini secara rasional dianggap sangat tepat guna mencegah depresi sesaat. Mereka tanpa memikirkan dampaknya pada keluarga dan orang terdekatnya. Keluarga semakin hancur, tatanan sosial yang dibangun sedemikian susah payah ditrabrak karena melempiaskan hawa nafsu yang tidak ada batasnya.

Tidak ada agama, selain Islam yang demikian tegas dalam menegakkan perintah atau larangan. Di beberapa komunitas agama, terjadi pembiaran perselingkuhan atau perzinahan, membolehkan meminum minuman keras, melegalkan perjudian, dan bahkan tidak melarang dengan tegas (permisif) terhadap perilaku homosek. Sementara agama Islam bukan hanya melarang tetapi memerangi berbagai praktek penyimpangan perilaku, seperti judi, zina, pernikahan sesama jenis. Kalau di berbagai belahan dunia, hampir semua agama membiarkan LGBT (Lesbian, Gender, Biseksual, dan Transgender) tumbuh dan berkembang. Hanya agama Islam yang berdiri tegak sendirian menentang perbuatan paling keji, yang tidak dilakukan oleh binatang sekalipun.

Fenomena kekompakan seluruh agama untuk memerangi Islam sangat terlihat. Mereka sepertinya sepakat untuk mendiamkan umat Islam dibantai atau dibunuh yang oleh siapapun tanpa memperoleh pembelaan. Apa yang dilakukan oleh pemerintahan Myanmar ketika membantai umat Islam Rohingya, atau rakyat Palestina yang dibantai dan direbut tanahnya oleh Israel, atau umat Islam Suriah yang dibantai oleh penguasa Syiah, maka seluruh komunitas agama membiarkannya. Tidak ada satu komunitas agama pun yang membela ketika umat Islam dibantai. Tidak ada gerakan dari komunitas agama Kristen atau Yahudi untuk membela umat Islam yang sedang teraniaya. Bahkan mereka terkesan membiarkan dan bangga ketika umat Islam dibumihanguskan.

Senangnya orang-orang kafir bisa dilihat dari diamnya mereka ketika melihat negeri-negeri Islam rusak dengan berbagai perilaku yang merusak masyarakatnya. Bahkan mereka menjadi penyokong tumbuhnya pergaulan bebas, peredaran narkoba, atau pendirian fasilitas perjudian. Perjuangan untuk melegalkan LGBT untuk diterapkan di negara-negara Islam tidak lepas dari sokongan dan dukungan orang kafir untuk merusak Islam. Tumbuh dan berkembangnya Ateisme, yang ingin ditumbuhkembangkan di negeri-negeri muslim, tidak luput dari skenario besar untuk menghancurkan Islam. Uniknya tidak ada satu agamapun yang mencegah penyebaran paham Ateisme.

Surabaya, 23 Agustus 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here