Apakah Kasus Rohingya Tindak Pidana ‘Genosida’?,

0
220

“)S Abu Hijroh

Genosida atau genosid (Bahasa Inggris: genocide) adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat punah) bangsa tersebut.

Untuk menganalisis apakah tindakan yang dilakukan terhadap etnis Rohingya di Myanmar termasuk genosida atau bukan, kita perlu mengamati 2 (dua) hal, yaitu Actus Reus (tindakan) dan Mens Rea (niat jahat) dalam tindakan tersebut.

Pertama, Actus Reus genosida adalah sebagaimana tercantum pada Artikel 6 Statuta Roma yang telah dijabarkan di atas. Saat ini memang muncul banyak versi terkait apa yang sebenarnya terjadi di Myanmar di berbagai media. Namun sebagian besar media tersebut memberitakan bahwa telah terjadi pembunuhan dan pemerkosaan dalam jumlah besar terhadap etnis Rohingya yang mayoritas beragama Islam. Apabila hal tersebut memang benar terjadi, maka setidaknya unsur dalam poin (a), (b) dan (c) Artikel 6 Statuta Roma telah terpenuhi.

Kedua, yang harus benar-benar diperhatikan adalah Mens Rea. Penting untuk dibuktikan bahwa tindakan yang dilakukan terhadap etnis Rohingya adalah tindakan terstruktur yang memang diniatkan untuk menghabisi etnis Rohingya secara keseluruhan.

Membuktikan Mens Rea memang bukan merupakan hal yang mudah, berikut ini terdapat beberapa pertimbangan hakim yang dapat dijadikan referensi untuk menentukan adanya Mens Rea:

1.  Hakim pada kasus Jelisic di Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia
(“ICTY”)mengatakan bahwa adanya rencana atau kebijakan(plan or policy) dapat menjadi faktor penting untuk membuktikan adanya Mens Rea dalam melakukan tindak kejahatan genosida;

2.   Hakim pada kasus Semanza di Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda (“ICTR”) 
mengatakan bahwa Mens Rea dari pelaku dapat disimpulkan dari perbuatan-perbuatan yang ia lakukan;

3.  Hakim pada kasus Akayesu di ICTR berpendapat bahwa untuk menimbang suatu niat adalah faktor mental yang sangat sulit bahkan mustahil untuk ditentukan, dalam hal tidak ada pengakuan dari terdakwa, Mens Rea dapat disimpulkan dari faktor-faktor berikut ini, antara lain:

Adanya konteks umum bahwa tindak pidana yang dilakukan pelaku yang sama atau berbeda yang secara sistematis ditujukan terhadap kelompok yang sama; Kenyataan bahwa suatu tindakan dilakukan dengan sengaja dan sistematis dengan sasaran korban yang didasarkan pada keanggotan dari suatu kelompok tertentu dan tidak menargetkan kelompok lainnya; Adanya rencana atau kebijakan yang menimbulkan terjadinya perbuatan-perbuatan tersebut dan Adanya tindakan penghancuran secara berulang-ulang dan ditujukan secara diskriminatif.

Kesimpulan ;
1. Merujuk kepada berbagai literatur hukum, riset dan analisa hukum, maka sudah bisa dipastikan kasus Rohingya adalah tindak pidana genosida, sehingga layak untuk diangkat ke Mahkamah internasional
2. Kasus Rohingya yang terjadi secara terus menerus lebih parah daripada perkara genosida yang terjadi sebelumnya diatas dunia ini, sehingga dampaknya tidak hanya terhadap generasi sekarang, akan tetapi lebih lagi kepada generasi yang akan datang dan masa depan umat manusia
3. Kaum Muslimin harus bangkit memerangi tindak pidana ini, yang adalah sangat bertentangan dengan ajaran Islam, dan tidak hanya memberikan bantuan kemanusiaan kepada kaum muslimin Rohingya

*) Pengamat Hukum dari Konsultan Hukum di Kantor Hukum Peduli Muslim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here