TNI AD Menjadi Garda Terdepan dalam Menghadapi Kejahatan PKI

0
441

*)Dr. Slamet Muliono

Peran strategis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dalam menjaga ideologi negara telah dibuktikan dalam babak sejarah. Hal ini bisa dilihat ketika berperan di garda depan dalam menumpas kejahatan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI telah berupaya menggulingkan pemerintahan dengan mengganti ideologi negara. Saat ini, peran strategis itu sedang ditunggu oleh masyarakat dan umat Islam Indonesia, khususnya dalam menghadapi ancaman ideologi komunis yang saat ini terasa menguat.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan TNI AD untuk memutar kembali film G 30S PKI merupakan salah satu munculnya kesadaran adanya bahaya kebangkitan PKI. Namun upaya ini harus terhadang oleh adanya kontra opini yang menganggap kebangkitan PKI hanya kekhawatiran belaka. Bahkan film itu tidak lain dari sebuah hasil rekayasa untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Dengan kata lain, bahwa penumpasan PKI yang dilakukan oleh TNI AD merupakan upaya rezim Orde Baru semata-semata untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang dilakukan oleh TNI AD, dalam menumpas PKI, adalah bentuk penyelamatan dari kejahatan kemanusiaan terhadap bangsa Indonesia dan agama Islam.

TNI dan Gerakan Penggembosan
Apa yang diupayak TNI AD merupakan sebuah ikhtiar untuk melindungi anak bangsa ini dari kejahatan yang pernah dilakukan PKI. Namun ikhtiar baik itu tidak berjalan mulus dan mendapatkan kritik. Sebagaimana menyebar di media sosial bahwa TNI AD memobilisasi masyarakat untuk menonton film pengkhianatan G 30S PKI mendapatkan kritik. Kepala pusat penerangan TNI Mayor Jenderal Wuryanto mengatakan bahwa pemutaran film G 30S PKI ini penting untuk mengajak generasi muda membaca sejarah. Sejak era reformasi, Pancasila, dan budi pekerti kurang diajarkan di bangku sekolah. Atas rencana itu, PBNU melakukan kritik bahwa hal ini tidak cocok di era keterbukaan ini. Imam Aziz, ketua bidang kebudayaan dan hubungan antar-umat beragama, mengkritik rencana TNI AD ini. Dia beralasan bahwa hal ini tidak cocok di era keterbukaan ini. Film ini dianggap propaganda yang dipaksakan tentang peristiwa 1965, yang efektif pada era Orde Baru yang serba tertutup. Kalau diputar sekarang, mungkin banyak yang akan tertawa terbahak-bahak. Film yang buat tahun 1984 dengan sutradara Arifin C. Noer sebagai film horor murahan. Sebab semua sudah terbuka siapa dalang gerakan yang menyebabkan terbunuhnya tujuh jenderal. Begitu juga lanjutannya dimana ratusan bahkan jutaan orang yang dianggap anggota dan simpatisan PKI menjadi korban. Semua sudah enggak rahasia lagi. (tempo.co.17/9/2017)

Tidak hanya itu, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), lewat anggotanya Sidarto Danusubroto, juga menyarankan untuk tidak memutar film G 30S PKI karena akan memicu keresahan sosial. Pemutaran film tersebut berbahaya bagi stabilitas politik Indonesia. Dikatakannya bahwa Indonesia sedang membangun perekonomian sehingga membutuhkan stabilitas politik. Kestabilan politik merupakan persyaratan dalam membangun perekonomian bangsa. Bila film G 30S PKI digelar maka akan menciptakan kegaduhan dan keresahan masyarakat serta mengganggu pemerintah menyelesaikan program prioritasnya (republika.co.id.19/9/2017)

Pandangan ketua PBNU seolah menunjukkan bahwa film PKI merupakan rekayasa politik semata. Film tentang PKI tidak lebih dari upaya mengegolkan tujuan untuk kekuasaan. Adanya fakta pembunuhan yang menimpa tujuh jenderal dan tokoh-ulama Islam seperti sebuah rekayasa, dan PKI seakan-akan tidak memiliki andil dalam tragedi berdarah itu. Padahal peran PKI sangat jelas dalam mengancam eksistensi agama dan ideologi negara. Terbunuhnya para ulama dan tokoh Islam di era tahun 1965-an tidak bisa dipungkiri karena ideologi Komunis itu. Bahkan para santri dan kiai menjadi target dan sasaran utama pembunuhan yang dilakukan oleh PKI.

Sementara pandangan Watimpres menunjukkan bahwa memutar film PKI sama saja menciptakan keresahan sosial di tengah upaya pemerintah membangun perekonomian bangsa. Secara eksplisit menunjukkan bahwa kekuatan PKI memang riil dan berpotensi akan menciptakan distabilitas politik. Oleh karena itu, memutar film PKI sama saja membangunkan kekuatan PKI yang akan membuat negara ini semakin kacau. Indonesia.
Apa yang dilakukan oleh PKI bukan hanya kejahatan politik tetapi kejahatan sosial dan agama. kita tidak akan lupa adanya sejarah kelam dimana ratusan orang dijagal dan dimasukkan ke dalam lubang sumur tua di tengah perkebunan tebu sewaktu pemberontakan PKI Madiun pada September 1948. Demikian pula yang terjadi di Takeran, Magetan, Jawa Timur, dimana banyak mayat yang ditanam di sebuah sumur. Korbannya bukan warga kampung tetapi orang luar. Mereka ada bupati, wedana, jaksa, kiai, pegawai. Bahkan KH. Imam Shofwan, pengasuh pondok pesantren Thoriqussu’ada Rejosari Madiun, dikubur hidup-hidup di dalam sumur. Bahkan dua putranya, Kiai Zubeir dan Kiai Bawani juga dikubur hidup-hidup secara bersama-sama (republika.co.id, 18/9/2017)

Apa yang dialami oleh Taufiq Ismail cukup menjadi pelajaran penting. Dia ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan berhaluan komunis, kemudian dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibat yang dialaminya adalah tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar, gaji sebagai dosen langsung distop. Saat itu, LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti “Matine Gusti Allah, Sunate Malaikat Jibril.” Ini menunjukkan pemikiran dasar PKI yang memusuhi manusia yang beragama dan melecehkan Islam.

Apa yang direncanakan oleh TNI AD patut untuk diapresiasi secara positif. Terlepas dari apakah film G 30S PKI itu rekayasa atau tidak, namun kejahatan yang dilakukan oleh PKI merupakan fakta yang tak terbantahkan. Berbagai perilaku jahat PKI itu patut dijadikan kewaspadaan khususnya bagi keberlangsungan ideologi negara dan agama Islam, dimana korban banyak menimpa kalangan TNI AD maupun tokoh dan ulama Islam

Surabaya, 20 Sptember 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here