Pernyataan Gatot Nurmantyo di Tengah Tuduhan Mencari Popularitas

0
957

*)Dr. Slamet Muliono

Pernyataan Panglima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo telah membuka mata dunia bahwa ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) benar-benar nyata. Fenomena terbaru adalah munculnya impor 5 ribu senjata yang dilakukan oleh kelompok institusi non-militer dengan mencatut nama Presiden Jokowi.Tentu saja, berita ini semakin meyakinkan publik adanya rencana dan ancaman disintegrasi bangsa ini bukan isapan jempol. Oleh karena itu, pernyataan Gatot Nurmantyo layak untuk dicermati sebagai upaya untuk menjaga negara ini dari kepentingan global. Di Tengah perjuangan serius untuk menjaga eksistensi bangsa ini, ada tudingan bahwa Gatot sedang menanam investasi politik untuk memperoleh popularitas demi kepentingan politik sesaat.

Sebagaimana berkembang di media sosial bahwa Gatot Nurmantyo membuka informasi tentang adanya fenomena untuk menghancurkan bangsa ini. Politik penghancuran itu dengan adanya impor senjata sebanyak 5.000 buah yang dilakukan oleh institusi non militer. Hal ini dia sampaikan saat berpidato pada acara silaturahim TNI dengan purnawirawan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Jumat (21/9/2017). Beliau menyatakan bahwa telah muncul etika politik yang tak bermoral dengan menggunakan politik segala cara untuk merusak Indonesia dan menghancurkan bangsa. Dia mengancam akan memberi pelajaran kepada pelakunya guna menyelamatkan negara dari upaya penghancuran dan disintegrasi bangsa.

TNI dan Pentingnya Penegakan Hukum
Apa yang diungkapkan Gatot Nurmantyo kali ini merupakan penegasan, sebagaimana yang pernah dia ungkapkan beberapa waktu yang lalu tentang Indonesia yang sedang menjadi incaran politik global. Waktu itu dia menyatakan bahwa Indonesia merupakan wilayah yang strategis dan potensial, sehingga menjadi rebutan bagi negara-negara besar. Dikatakan strategis karena Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis dan mudah dijangkau sehingga menarik perhatian dunia. Dikatakan potensial karena Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, sehingga membuat berbagai negara berkeinginan untuk mengeksploitasi kekayaan alamnya. Oleh karena itu, banyak kita lihat berbagai bangsa terus melirik dan mengambil langkah untuk mendapatkan keuntungan terhadap apa yang dimiliki oleh Indonesia.

Beribu pulau yang dipisahkan oleh lautan dengan berbagai suku bangsa, agama, bahasa, dan budaya tentu berpotensi besar untuk diceraiberaikan. Sehingga kelompok kepentingan selalu menciptakan konflik guna mengambil keuntungan. Oleh karena itu, eksploitasi terhadap sumber daya alam yang dimiliki Indonesia lebih banyak keluar daripada ke dalam negeri. Betapa banyak ekplorasi barang-barang tambang, batubara, laut serta tanah-tanah yang berada di tepi pantai direklamasi secara massif tanpa memberi keuntungan dan kesejahteraan pada masyarakat lokal. Implikasinya, pertambahan penduduk miskin terus tumbuh, dan daya beli masyarakat yang terus menurun, sehingga tidak mampu menikmati kekayaan alam yang melimpah ini.
Sektor ekonomi dan perdagangan yang strategis tidak lagi ditentukan dan dipergunakan untuk kepentingan anak bangsa (pribumi) tetapi dikuasai oleh asing dan aseng. Bahkan barang-barang yang merusak anak bangsa beredar demikian mudah di pasaran dengan sasaran masyarakat menengah ke bawah. Peredaran sabu-sabu dan narkoba demikian bebas, telor dan ikan palsu, garam bercampur serpihan kaca beredar tanpa kontrol. Bibit wortel yang merusak otak juga beredar tanpa bisa mengontrol dan menghentikannya. Bahkan muncul jajanan murah di pasaran, seperti permen yang berefek negatif pada otak anak juga sulit dikontrol. Hal ini tidak lepas dari upaya menghancurkan penduduk pribumi, dan pelakunya adalah asing dan aseng.
Kondisi wilayah yang demikian luas memudahkan munculnya konflik antar kelompok masyarakat yang memiliki ideologi yang berbeda, dan hal itu mudah untuk disulut dan dibesar-besarkan, sehingga masyarakat disibukkan dengan hal-hal yang kurang produktif dan konflik berkepanjang yang menghabiskan energi anak bangsa. Antar komponen masyarakat selalu terlibat konflik yang tak pernah sepi, sehingga tidak lagi sempat untuk menentukan masa depannya.

Munculnya senjata yang diimpor ke dalam negeri tidak lepas dari perkembangan lebih lanjut dari kekuatan asing dan aseng yang merasa dirinya kuat, sehingga berani mengambil langkah mendatangkan senjata guna menciptakan guncangan politik di negara ini. Bila hal ini dibiarkan dan tidak ada langkah penghentian dari institusi militer, maka impor senjata akan semakin massif dan kehancuran bangsa ini semakin cepat. Langkah Panglima TNI merupakan tindakan preventif untuk mencegah disintegrasi bangsa.

Sudah selayaknya pelaku yang berani mengimpor senjata itu dicari dan dibuka identitasnya, serta diproses secara hukum. Hal ini agar tidak terulang serta memberi efek jera kepada pelakunya. Tanpa adanya hukuman, dikhawatirkan akan muncul kembali kasus yang sama dengan intensitas yang lebih besar. Meskipun Panglima TNI Gator Nurmantyo sudah menyatakan tidak hanya membuat pelakunya menangis tetapi akan membuatnya merintih, namun harus ada langkah terbuka untuk membuka identitas pelakunya dan menghukumnya. Tanpa membuka identitas pelakunya, bisa jadi hal itu hanyalah ancaman kosong, dan bahkan menuduh Panglima TNI mengada-ada.

Selayaknya juga bagi presiden berhak untuk mengusut tuntas pelakunya yang berani mencatut namanya untuk mendatangkan senjata yang tidak pernah dilakukannya. Hal ini bukan hanya untuk memulihkan nama baik presiden tetapi juga akan menjaga kewibawaan presiden sebagai kepala negara. Tanpa memproses pelakunya secara terbuka justru akan merusak nama baik Panglima TNI. Belum sehari, sudah muncul ungkapan bahwa Panglima TNI telah melakukan politik tebar pesona untuk memperoleh dukungan politik pada pilpres yang akan datang. Kepentingan dan tujuan politik yang terganggu, sangat wajar bila menuding dan mencari-cari alibi untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang menghalanginya. Tuduhan buruk, dengan menuduh Panglima TNI sedang melakukan investasi politik, merupakan watak alami bagi musuh yang merasa terhalang dalam mencapai tujuan.

Surabaya, 25 September 2017
*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here