Spirit Cadar dan Syndrome Terorisme

0
135

*)Dr. Slamet Muliono

Cadar kembali menjadi polemik di masyarakat. Tak tanggung-tanggung beberapa kampus Islam negeri telah memicu munculnya perdebatan itu dengan melarang mahasiswinya mengenakan cadar ketika di kampus. Tentu saja hal itu mengundang kontroversi. Di satu sisi, muncul kesadaran beragama di kalangan masyarakat, sehingga mereka dengan rela hati mengenakan cadar sebagai wujud kecintaan pada ajaran agama. Di sisi yang lain, untuk menghindari fitnah dari orang lain atas dirinya. Argumentasi yang dikedepankan oleh universitas bahwa bercadar merupakan budaya arab yang kurang cocok untuk Indonesia. Bahkan cadar dianggap menciptakan gap dan mengganggu pergaulan serta komunikasi dengan orang lain. Bahkan, cadar dipermasalahkan karena identik dengan faham yang dilekatkan pada faham radikal.

Sebagaimana berkembang cepat di media sosial bahwa dua institusi Islam (UIN Kalijaga Yogyakarta dan Walisongo Semarang) telah melarang mahasiswinya mengenakan cadar. Larangan mengenakan cadar dengan beberapa alasan. Di antaranya karena cadar merupakan budaya ala arab, lebih dekat kepada terorisme, menjaga jarak dengan orang lain, serta menciptakan ketidaknyamanan dalam berkomunikasi. Bahkan dua institusi itu dikabarkan memiliki aturan dan tata tertib yang melarang mahasiswinya mengenakan cadar. Namun belakangan pihak universitas membantah adanya larangan bercadar itu dengan alasan terjadi salah persepsi terhadap wacana yang berkembang.

Cadar dan Spirit Beragama
Menyebarnya fenomena cadar seiring dengan menguatnya spirit beragama masyarakat perkotaan. Bahkan kesadaran bercadar itu berkembang dan merangsek masuk ke lingkungan pedesaan seiring dengan perkembangn teknologi informasi yang begitu cepat. Dengan kata lain, dinamika dan fenomena pemakaian cadar telah menjadi fenomena global. Di sisi lain, masih banyak kalangan muslim, sadar atau tidak sadar, masih menganggap bahwa cadar identik dengan budaya Arab. Bahkan lebih parah lagi dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme. Dengan mengedepankan aspek kecintaan terhadap budaya bangsa atau menghindari konflik di masyarakat, maka mereka menolak cadar untuk dikenakan pada sektor publik. Bahkan dengan alasan keberagaman dan kebhinnekaan, cadar dianggap mengganggu sehingga harus disinggirkan.

Tidak tanggung-tanggung, yang memelopori pelarangan cadar itu justru kampus-kampus Islam. Argumentasi yang dibangun bermacam-macam untuk mempermasalahkan cadar. Salah satu di antaranya adalah tidak sesuai dengan tradisi masyarakat Indonesia, dan mengenakan cadar tidak bersifat wajib. Bahkan pihak yang melarang berargumentasi bahwa cadar identik dengan ajaran kelompok radikal. Alih-alih menguatkan anggota masyarakat muslim untuk menegakkan agamanya, tetapi justru mengikuti arus global untuk memarginalisasi ajaran Islam dari sektor publik. Mereka justru lalai terhadap fenomena yang memiliki daya rusak yang lebih dahsyat. Busana rok mini, pakaian ketat atau setengah terbuka tidak menjadi prioritas, tetapi justru mencari alibi untuk menghabisi kamum muslimin yang secara sadar untuk menerapkan ajaran agamanya secara tulus dan ikhlas. Mengapa energi positif itu tidak digunakan untuk membentengi umat Islam dari kerusakan akhlak, seperti menyebarnya kelompok homo dan lesbi (LGBT) Bahkan menyebarnya budaya asing yang merusak kaum muslimin tidak diprioritaskan sehingga generasi musda Islam tidak semakin rusak dan mengalami kehancuran moral.

Usil Cadar dan Ketidaksiapan Berbhinneka
Perang terhadap cadar seolah menutup mata semakin massifnya penyebaran budaya pakaian seksi atau busana setengah telanjang. Bahkan banyak di antara perempuan muslim yang mengenakan baju muslimah tetapi hakekatnya telanjang, dimana mereka mengenakan pakaian secara ketat sehingga terlihat lekuk-lekuk tubuhnya. Pembiaran terhadap budaya yang merusak kaum muslimin dan justru kritis terhadap pemakaian cadar, menunjukkan ketidaksiapan mereka dalam berbhinneka, sebagaimana yang sering mereka gembar-gemborkan. Kebebasan beragama terus diperjuangkan, tetapi ketika ada kaum muslimah yang memiliki spirit agama yang kuat, dengan mengenakan cadar, maka mereka merasa terganggu.
Kalau dahulu, pada awal-awal Islam, yang merasa gelisah dan mencemooh Nabi Muhammad adalah orang-orang kafir. Namun saat ini yang merasa gelisah justru umat Islam sendiri, dimana cadar justru dijadikan bahan ejekan untuk disingkirkan keberadaannya di sektor publik. Dengan kata lain, fenomena penolakan cadar merupakan gejala ketidaksiapan hidup berbhinneka. Kelompok-kelompok yang menyerang pemakaian cadar seringkali salah dalam menggunakan senjata. Mereka justru membunuh ajaran agamanya dan menghidupkan agama orang lain. Mereka begitu kritis terhadap agamanya tetapi memberi ruang hidupnya ajaran agama lain.

Bahkan dalam batas tertentu, mereka bersikap ambigu dan berstandar ganda ketika melakukan sesuatu. Mereka setuju dan berjuang untuk menjaga eksistensi agama lain dengan alasan toleransi beragama, tetapi mereka justru tidak toleran terhadap kaum muslimah yang ingin mengenakan cadar. Bahkan gereja pun dijaga untuk menunjukkan perlindungannya terhadap kelompok minoritas, tetapi tidak menjaga harkat dan harga diri kaum muslimah yang ingin menerapkan cadar. Alih-alih melindungi kepentingan kaum muslimah yang bercadar, tetapi mereka justru membullynya dengan alasan yang dicari-cari.

Dengan kata lain, mereka begitu kritis terhadap perilaku umat Islam, tetapi justru lalai, atau terpesona dengan budaya lain yang justru merusak eksistenasi agama mereka. Dengan alasan menjaga NKRI dan Pancasila, sebagian ormas Islam memerangi kelompok-kelompok radikal, yang mereka sebut dengan kelompok wahabi, tetapi mereka lupa diri dengan berkembangnya ketika kelompok Syiah yang demikian bebas masuk ke jantung dan kantong-kantong umat Islam.
Sudah saatnya umat Islam membangun koalisi terhadap sesama muslim, bukan membangun persauraan dengan musuh-musuh Islam. Bila demikian, bukan Islam yang berkibar dan umat Islam yang terangkat martabatnya tetapi justru kehinaan dan kenistaan yang dirasakan umat Islam dan kejayaan orang-orang non Islam. Seharusnya, membangun kebhinnekaan dan toleransi akan menumbuhkan budaya dan nilai-nilai Islam, bukan justru membunuh spirit Islam dan memberi peluang tumbuhnya embrio kelompok non-muslim yang terus menerus berupaya menggerogoti kekuatan umat Islam. Cadar seharusnya menjadi peluang tertanam dan tersebarnya ajaran Islam, bukan justru menjadi amunisi untuk membumihanguskan Islam di Indonesia. Inilah hakekat syndrome radikalisme.
Surabaya, 15 Oktober 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here