Dilema Membangun Kebhinnekaan Dengan Sikap intoleran

0
176

*)Dr. Slamet Muliono

Sungguh ironis, perjuangan menegakkan sikap toleran justru dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan intoleran. Betapa tidak, selama ini gerakan-gerakan intoleran terus disudutkan dan dianggap membahayakan bagi kebhinnekaan dan kebebasan beragama, tetapi saat ini justru muncul sikap intoleran yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang dianggap dan identik dengan gerakan memberantas sikap intoleran.
Dua kasus berikut merupakan contoh betapa masyarakat belum siap untuk hidup secara toleran dan menerima perbedaan. Kasus pembakaran masjid At-Taqwa Muhammadiyah di Aceh dan penghentian aktivitas pondok tahfidz Al-Qur’an di Jawa Tengah menjadi topik hangat di media sosial. Hal ini menunjukkan gejala intoleransi agama di tengah perjuangan pentingnya menghargai perbedaan agama dan keyakinan.

Ambigu:Ketidakpahaman Makna Intoleransi

Sebagaimana tersebar ddi media sosial bahwa ada dua kasus intoleransi agama. Pertama, pembakaran masjid milik Muhammadiyah di desa Sangso, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh yang dilakukan oleh sekelompok massa yang terjadi pada hari Selasa (17/10/2017). Pertentangan pembangunan masjid ini pernah terjadi sebelumnya, namun kembali mencuat ke permukaan. Penggalangan untuk menentang pembangunan masjid itu dilakukan oleh kalangan Dayah yang ada di Samalangan, dan menyebut dirinya Aswaja. Kedua, penghalangan aktivitas pondok tahfidz. Kasus ini juga menimpa Muhammadiyah Jepara, ketika ada kelompok yang mengatasnamakan PCNU melarang aktivitas di pondok pesantren ini. Pihak yang menghalangi menganggap bahwa pondok pesantren itu belum ber-IMB, sehingga harus menghentikan aktivitasnya. (14/9/2017)

Dua kasus di atas menunjukkan adanya ketidaksiapan masyarakat untuk hidup dalam keberagaman. Padahal slogan membangun masyarakat toleran di tengah keberagaman terus didengungkan dan ingin ditegakkan. Mimpi besar untuk mewujudkan masyarakat yang tenang dan damai di tengah keberagaman tidak pernah putus. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia bukan hanya negara multi etnis, bahasa, suku, dan agama yang tinggal di ribuan pulau, tetapi multi kepentingan yang rawan konflik dan sulit disatukan dengan mudah. Belum lagi strata sosial, kesenjangan ekonomi dan kepentingan politik dan perbedaan agama ikut mendorong munculnya konflik. Sehingga tidak mudah untuk mewujudkan masyarakat yang siap bertoleransi terhadap perbedaan paham dan keyakinan.
Bahkan untuk mewujudkan masyarakat yang siap bertoleransi di tengah keberagaman, muncul organisasi-organisasi kemasyarakatan Islam (Ormas Islam) yang mendengungkan dan memperjuangkannya. Di antaranya adalah NU dan Muhammadiyah. Dua ormas Islam ini berada di garis depan untuk menegakkan prinsip pentingnya kebhinnekaan serta siap untuk memerangi gerakan-gerakan intoleransi, seperti radikalisme dan terorisme. Bahkan NU mengikrarkan diri sebagai pejuang untuk memerangi kelompok intoleran, hingga rela menjaga gereja sebagai perwujudan untuk bersikap toleran terhadap penganut agama lain. Tetapi pada kenyataannya, mereka justru bertindak intoleran terhadap sesama agama, sebagaimana yang terjadi di Aceh dan Jawa Tengah dengan bukti pembakaran dan pelarangan aktivitas masjid dan pondok pesantren milik ormas Muhammadiyah.

Kasus ini menunjukkan ketidaksiapan beberapa komponen masyarakat menerima perbedaan faham keagamaan. Bahkan mereka tidak memahami dampak atas perbuatan mereka yang tidak toleran sehingga kontra dengan apa yang didengung-dengungkan selama ini. Bukannya merajut perbedaan dengan ukhuwah Islamiyah, tetapi justru mereproduksi konflik yang mengkhianati prinsip menghormati keberagamaan dan mereproduksi tindakan intoleransi terhadap sesama muslim.

Pentingnya Memberi Contoh
Kasus yang menimpa Muhammadiyah di Aceh dan Jawa Tengah menunjukkan ketidaksiapan beberapa elemen masyarakat untuk mencegah tindakan intoleransi. Hal ini juga menunjukkan kurang maksimalnya dalam mendidik dan mensosialisasi ormas Islam yang selama ini diidentikkan dengan kelompok yang paling toleran. Sudah selayaknya memberi contoh yang baik dengan mengaca pada diri sendiri sebelum ingin diterapkan kepada orang lain.

Kalau Islam mengajarkan untuk berlemah lembut dan berkasih sayang terhadap sesama muslim, maka sudah seharusnya menerapkan prinsip itu kepada sesama muslim dalam kehidupan sehari-hari. Masjid milik Muhammadiyah tidak akan dibakar apabila menyadari bahwa Muhammadiyah adalah kaum muslimin dan akan terluka hatinya bila dianggap kelompok intoleran. Membakar masjid milik Muhammadiyah sama saja menganggap bahwa Muhammadiyah adalah kelompok intoleran. Belum lagi menghentikan aktivitas pondok pesantren yang menghafal Qur’an, dengan alasan belum ber-IMB, tentu alasan yang mengada-ada. Mengapa tidak muncul sikap untuk membantu lancarnya mengurus IMB apabila ada saudaranya yang mengalami kesulitan dalam mengurus IMB.
Di sisi lain, muncul sikap yang berbeda ketika menghadapi kelompok non-muslim. mereka justru bersikap lemah lembut dengan mereka. Alih-alih bersikap tegas dengan kelompok non-muslim tetapi mereka justru bersikap baik terhadap mereka. Al-Qur’an memandu kita untuk berbuat baik dan berlemah lembut dengan sesama muslim dan tegas terhadap orang non-muslim sebagaimana firman Allah :
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…. (QS. Al-Fath : 29)

Sifat dan sikap orang beriman yang lemah lembut terhadap sesama muslim dan tegas terhadap orang kafir sudah selayaknya diterapkan dalam konteks individu sebelum menerapkan kepada orang lain. Agar tidak terjadi kontradiktif dalam berperilaku, dimana berlemah lembut kepada kelompok non-muslim, dan justru sadis serta ingin memusnahkan keberadaan sesama muslim. Inilah dilema dan ketidaksiapan masyarakat yang menginginkan kebhinnekaan tetapi menghalalkan sikap intoleransi.

Yogyakarta, 19 Oktober 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here