Menunggu Banser-Ansor Bersikap Toleran

0
316

*)Dr. Slamet Muliono

Beberapa hari lalu, media sosial kembali diramaikan oleh pembubaran pengajian yang dilakukan Banser-Ansor terhadap Felix Siauw. Banser-Ansor beralasan bahwa gagasan Felix Siauw tentang khilafah sangat membahayakan, dan organisasi Felix (HTI) dianggap sebagai bahaya dan ancaman bagi ideologi negara. Bahkan dengan disahkannya Perppu no 2/2017, maka HTI dianggap sebagai ormas terlarang. Di sisi yang lain, Felix juga memiliki hak untuk menyebarkan dakwahnya dengan berdakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. dan massa yang ingin mendengarkan kajiannya juga tidak sedikit. Dua pandangan yang bertolak belakang ini sulit dipertemukan dan akan terus mereproduksi konflik selama pihak-pihak yang berseteru tidak berupaya untuk menahan diri.

Banser-Ansor, sebagaimana disuarakan NU, senantiasa menyuarakan pentingnya bersikap toleran dan menjauhi sikap kekerasan. Namun kali ini apa yang dilakukan Banser-Ansor sudah jauh berbeda dengan apa yang selama ini mereka suarakan. Dalam konteks ini, pemerintah selayaknya hadir untuk menengahi dan bertindak sesuai dengan koridor hukum. Pemerintah, dalam hal ini pihak kepolisian, bisa bersikap netral dalam menerapkan hukum. Sikap yang kongkret dengan bertindak langsung, bukan membiarkan ormas tertentu untuk bertindak main hakim sendiri, merupakan solusi yang ditunggu masyarakat luas. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh Banser-Ansor, dengan membubarkan pengajian, seharusnya menjadi tugas pihak keamanan. Pembiaran terhadap salah satu ormas untuk melakukan tindakan kekerasan justru akan memicu ormas lain untuk bertindak serupa.

Blunder Bagi Banser-Ansor
Apa yang dilakukan Banser-Ansor yang berhasil menghentikan pengajian Felix Siauw di Bangil, kembali menghidupkan memori perseteruan antara NU dan HTI. NU, dalam hal ini Banser-Ansor merupakan yang berada di garda depan untuk menghadapi kelompok-kelompok yang dianggap membahayakan ideologi negara. Bahkan NU senantiasa mensosialisasikan pentingnya bersikap toleran dalam menyelesaikan persoalan, tetapi dalam menghadapi HTI ini, ada perbedaan sikap. Dalam pandangan Banser-Ansor, HTI merupakan ormas yang dianggap sebagai ancaman negara, dengan gagasan Khilafahnya, sehingga HTI harus menghentikan aktivitasnya. Felix Siauw dianggap Banser-Ansor sebagai representasi HTI, sehingga aktivitasnya dianggap sebagai ancaman negara.

Tidak bisa dipungkiri bahwa membesarnya HTI dan apa yang dsuarakan selama ini telah melahirkan Perppu nomor 2/2017. Konteks lahirnya Perppu itu tidak lepas untuk membendung gagasan khilafah, karena dianggap sebagai ancaman ideologi negara. Apa yang dilakukan Banser-Ansor bisa menjadi blunder bagi dirinya apabila merujuk pada Perppu ormas pasal 59 ayat c tentang larangan bagi ormas. Perppu itu melarang ormas : (a) melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan. (b) melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia. (c) melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum, dan fasilitas sosial; dan/atau (d) melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagi pelapor bisa saja apa yang dilakukan Banser-Ansor yang membubarkan pengajian bisa terkena pasal : melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum (pasal c) dan telah melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum (pasal d). Dalam konteks ini Banser-Ansor telah melakukan tindakan kekerasan dengan membubarkan pengajian sehingga mengganggu ketertiban umum, dan telah mengambil alih tugas penegak hukum dengan membubarkan kelompok yang menurutnya menyimpang.

Menunggu Peran Aktif Pemerintah
Konflik yang terjadi tidak akan selesai selama pemerintah membiarkan aksi ormas tertentu yang melakukan main hakim sendiri. Kasus pembubaran pengajian ini memberi cela bagi ornas manapun untuk melakukan hal yang sama. Hal ini akan memicu terciptnya kekacauan di masyarakat. Apa yang dilakukan Banser-Ansor yang membubarkan acara yang diaggap tidak sepaham dengan pandangannya sudah terjadi berkali-kali. Apa yang dilakukan Banser-Ansor terhadap Felix Siauw mengingatkan kembali peristiwa pembubaran pengajian di Sidoarjo yang saat itu sedang diisi Ust. Khalid Basalamah. Khalid dianggap orang yang suka mengkafir-kafirkan dan membid’ahkan kelompok lain.

Peran persuasif pemerintah sangat penting dilakukan agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan. Kalaupun membubarkan acara yang dianggap membahayakan, maka pihak keamanan bertindak secara langsung, bukan membiarkan ormas lain mengambil tindakan secara sendiri-sendiri. Apa yang terjadi selama ini, justru membuat antar ormas Islam saling berbaku, dimana menciptakan konflik horizontal di kalangan masyarakat akar rumput. Tidak selayaknya pemerintah membiarkan antar kelompok di masyarakat untuk terus berseteru dan berkonflik, sehingga masyarakat tidak sempat ikut berkontribusi dalam membangun negara.

Sudah waktunya pemerintah mendudukkan ormas-ormas yang berbeda pandangan, dalam hal ini ormas Islam, bisa difasilitasi untuk berkontribusi positif bukan dibiarkan terus berkonflik. Ketika terjadi konflik antar umat Islam harus disadari bahwa ada kelompok lain yang bergembira dan bersorak. Ketika antar umat Islam terus berkonflik, sampai kapan energi umat Islam habis sia-sia. Tidak lagi ada aktivitas dakwah untuk orang lain, tetapi sibuk mencaci maki satu dengan yang lain. Sangat unik dan tragis karena ada ormas Islam yang bisa hidup penuh toleransi terhadap non-muslim tetapi sulit menerapkannya pada sesama muslim. Kalau saja gereja bisa dimasuki dan dijaga eksistensinya, dari gangguan orang lain, maka menjaga pengajian umat Islam seharusnya lebih bisa dilakukan. Kalau berdialog dengan kelompok non-muslim, sebagai bentuk toleransi tertinggi, bisa dilakukan tetapi mengapa tidak bisa dilakukan terhadap sesama muslim.

Surabaya, 8 Nopember 2017
*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here