Ekspresi Loyalitas & Keberpihakan Sahabat Tsumamah

0
166

*) Dr. Muhammad Arifin Badri

Sahabat saja dengan gagah berani menunjukkan loyalitasnya langsung di hadapan musuh dan di negri musuh. Bagaimana dengan anda saat ini?

Setelah sahabat Tsumamah bin Utsal Al Yamamy radhiallahu ‘anhu masuk Islam, beliau menyampaikan niatnya untuk menunaikan Umrah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merestui keinginannya tersebut.

Setibanya di Makkah beliau berjumpa dengan seorang lelaki Quraisy yang mulai merasa terjadi perubahan pada diri sahabat Tsumamah bin Utsal. Lelaki itu segera bertanya: apakah engkau telah berganti agama?

Sahabat Tsumamah menjawab dengan tegas: Saya tidak berganti agama, tetapi aku masuk Islam, beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya berusaha memberi pelajaran kepada Quraisy, agar tidak terus menerus bersikap arogan dan mengganggu dan memerangi dakwah Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam.

Dengan gagah berani dan penuh keyanikan bahwa perekonomian negrinya tidak akan kolaps, kalaupun tidak menjual produk pertaniannya kepada Quraisy. Walau sedang berada di negri orang orang Quraisy, sahabat Tsumamah dengan gagah berani, menyampaikan satu maklumat kepada orang-orang kafir Quraisy bahwa: ia beserta kaumnya tidak akan pernah lagi menjual gandum walau hanya satu biji kepada kaum Quraisy, kecuali bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya (Bukhari & Muslim).

Tak ayal lagi ancaman yang kemudian benar benar dilaksanakan oleh sahabat Tsumamah ini benar-benar meruntuhkan keangkuhan orang-orang Quraisy.

Keputusan sahabat Tsumamah untuk menlakukan embargo gandum ini tentu saja menyusahkan Quraisy. Segala daya dan upaya telah mereka kerahkan guna mengatasi masalah ini, namun tetap saja tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya mereka dengan penuh hina dina, meminta bantuan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar memerintahkan Tsumamah beserta kaumnya untuk menjual kembali gandum mereka kepada para pedagang Quraisy.

Karena Nabi merasa iba dengan kondisi perekonomian Quraisy, maka beliaupun akhirnya memerintahkan sahabat Tsumamah agar kembali menjual gandumnya kepada para pedagang Quraisy (Al Baihaqy).

Ya, itulah contoh figur muslim yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya kembali di setiap masa dan negri Islam.

Masalah benar dia hadir lalu arogan atau tidak, bukan urusan saya, saya hanya ingin mencontohkan bagaimana seharusnya ummat Islam sepatutnya menyadari bahwa sudah terlalu sering mereka bersikap arogan, kepada ummat Islam.

Sadarilah bahwa sesama ummat Islam seharusnya memiliki rasa ikatan suci, ikatan iman. Sehelai rambut seorang Muslim anda sentuh, maka kami saudara saudara orang Islam yang anda potong sehelai rambutnya akan bangkit, berempati kepada saudarauku sesama Muslim yang engkau potong sehelai rambutnya? Masing masing dari kami akan berusaha membuktikan loyalitas dan keberpihakannya kepada anda dan teman teman anda, setiap muslim dengan caranya sendiri.

Sekali lagi, bukan ajakan embargo terbuka, tetapi sekedar ekspresi pribadi seperti yang dilakukan oleh sahabat Tsumamah. Anda mau ikut ya monggo ndak juga monggo, ndak perlu ada kebencian antara kita, hanya karena dia.

*) Dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyyah Imam Syafi’i Jember.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here