Konflik Internal Umat Islam dan Trend Pemurtadan

0
235

*)Dr. Slamet Muliono

Fenomena gerakan pemurtadan di Indonesia, akhir-akhir demikian massif. Sasaran terbanyak adalah kalangan menengah bawah. Kalau sebelumnya, pemurtadan lebih fokus dan mengarah pada kelompok masyarakat kelas ekonomi bawah dan pedesaan, maka saat ini sudah merambah pada masyarakat terdidik perkotaan. Masyarakat kelas ekonomi bawah, khususnya masyarakat pinggiran dan terbelakang, lebih mudah diiming-imingi dengan pekerjaan, makanan, atau fasilitas lainnya. Sehingga mereka, baik sukarela maupun terpaksa, pindah agama.

Saat ini fenomena pemurtadan juga membidik dan mengarah pada masyarakat terdidik perkotaan. Jalan pemurtadan dilakukan oleh mereka dengan mengaku pernah mendalami Islam, serta mengajak umat Islam untuk keluar dari agamanya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Saifuddin Ibrahim yang beralih menjadi pendeta dan mengajak secara terbuka untuk mengajak umat Islam pindah agama. Bahkan dalam melakukan gerakan pemurtadan, dia menulis buku maupun pidato secara terbuka. Teknik pemurtadan yang dilakukan, dengan mengkritik isi kitab suci Al-Qur’an dan menyerang pribadi Nabi Muhammad.

Konflik Internal Umat Islam
Fenomena pemurtadan yang dilakukan oleh Saifuddin Ibrahim, dengan menulis buku. Lewat bukunya “Dialog Kristen-Islam”, dia mengkritik Al-Qur’an sebagai kitab suci yang banyak mengandung kesalahan dan penuh kontradiksi. Pria kelahiran Lombok, 26 Oktober 2017 ini mengatakan bahwa Al-Qur’an dianggap sebagai kitab yang penuh kepalsuan dan ajarannya tidak masuk akal. Bahkan Pria jebolan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo dan STT jurusan Teologi menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang melegalkan perang dan pembunuhan terhadap pemeluk agama lain.

Saifuddin Ibrahim menyatakan secara terbuka menyatakan bahwa Islam adalah agama yang mengajak kepada perang sehingga terjadi kekacauan. Bahkan dia berani menyatakan bahwa murtadnya dia, hingga menjadi pendeta, disebabkan oleh ajaran Islam yang sulit dicapai. Ajakan untuk masuk Islam secara menyeluruh (kaffah) merupakan hal yang menyulitkan. Bahkan dia mengatakan bahwa shalat lima waktu itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang hidup cukup, sementara sulit dilakukan oleh orang-orang miskin, seperti tukang becak.

Dia juga mengkritik Nabi Muhammad sebagai manusia yang diperbudak seks, dengan menikahi banyak perempuan. Bahkan secara terbuka dia menyatakan bahwa Nabi Muhammad menghalalkan menikah lebih dari satu untuk memberi jalan untuk hidup dengan orientasi seks.

Apa yang dilakukan oleh Saifuddin Ibrahim bukan hanya menunjukkan fenomena pemurtadan yang dilakukan secara terbuka, tetapi menunjukkan adanya kelengahan umat Islam dalam memelihara dan menjaga umatnya dari upaya pemeluk agama lain untuk memurtadkan kaum muslimin. Pemurtadan secara massfif yang menimpa umat Islam tidak lepas dari situasi konflik yang melanda internal umat Islam. Konflik yang terus menerus menimpa umat Islam agaknya sengaja diciptakan sehingga umat Islam tidak lagi peduli terhadap adanya gerakan pemurtadan.
Kekhawatiran terhadap berkembangnya Islam radikal dan kelompok intoleran terus diblow up.

Sehingga sebagian umat Islam bukan hanya disibukkan untuk memerangi kelompok intoleran ini. Pancasila diangkat sebagai isu dan sedang mengalami ancaman dari kelompok radikal, sehingga harus diperangi. Munculnya Perppu Ormas tahun 2017 yang membidik kelompok radikal, dengan memerangi kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), merupakan salah satu contoh, sehingga antar umat Islam harus terlibat konflik. Konflik antar umat Islam ini jelas-jelas membuang-buang energi dan melemahkan umat Islam.

Demikian pula, kecurigaan terhadap gerakan transnasional terus dibesar-besarkan, sehingga melahirkan kebijakan untuk memerangi kelompok itu. Tuduhan adanya bahaya gerakan Wahabi terus dikembangkan di tengah pertumbuhan dakwah Islam yang demikian besar dan menjamur di berbagai daerah. Perkembangan dakwah Islam yang cukup pesat ini benar-benar meresahkan kelompok non-muslim. Kegelisahan itu tidak ditangani langsung dengan tindakan bodoh, tetapi mereka justru menciptakan isu adanya ancaman terhadap ideologi negara. Mereka menggandeng kelompok Islam tradisionalis untuk memerangi ancaman kelompok Wahabi ini. Dengan alasan tidak sesuai dengan tradisi lokal, kelompok Wahabi diperangi dengan menggunakan tangan-tangan kelompok Islam tradisionalis.

Kesibukan memerangi kelompok yang distigma Wahabi ini, membuat kelompok Islam tradisional tidak terusik dengan berdirinya gereja yang menjamur, tetapi mereka justru merasa terganggu dengan perkembangan dakwah Islam yang telah distigma sebagai Islam intoleran. Bahkan tidak sedikit kelompok tradisional merasa terganggu dengan berdirinya masjid-masjid yang dianggap berwajah Wahabi, sehingga muncul pembubaran terhadap pengajian sebagaimana yang dilakukan GP Ansor dan Banser.

Apa yang dilakukan oleh Saifuddin Ibrahim merupakan tamparan besar bagi umat Islam yang sudah tidak lagi sensitif adanya penodaan agama, karena secara terbuka telah menistakan Al-Qur’an dan melecehkan pribadi Nabi Muhammad. Kelompok Islam tradisionalis pun tidak memiliki respon yang demikian cepat untuk memagari massifnya gerakan pemurtadan ini. Sudah selayaknya umat Islam segera bersatu menghadapi musuh bersama itu dengan meletakkan perbedaan yag sifatnya khilafiyah. Perpecahan dalam tubuh umat Islam harus disadari sebagai keberhasilan pihak eksternal yang menginginkan umat Islam konflik berkepanjangan. Hal ini membuat umat Islam tidak sempat membangun dan menyatukan barisan untuk menyebarkan Islam secara damai.

Upaya pemurtadan yang terjadi memang menyasar pada kelompok Islam yang lemahnya agama serta kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Apa yang terjadi di Babakan, Madang, Bogor, sebagaimana yang dilakukan oleh Yayasan Maju Bangsa, dengan melakukan pembaptisan terhadap 15 kaum muslimin merupakan fenomena kasat mata adanya pemurtadan secara sistematis. Awalnya diiming-imingi dengan membantu dana untuk usaha. Mereka diajak untuk ikut rekreasi dan masuk hotel, kemudian diajak makan siang dan berenang. Akhirnya mereka diajak untuk masuk Kristen.

Gerakan pemurtadan Saifuddin Ibrahim dengan mengkritik Al-Qur’an, sebagai kitab yang banyak mengandung kekeliruan dan kelemahan merupakan keberanian yang luar biasa, tetapi hal ini tidak menggerakkan umat Islam untuk melakukan perlawanan. Bahkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad, yang dikatakan sebagai budak nafsu, tidak menggerakkan kelompok Islam tradisionalis untuk melakukan tindakan pembelaan terhadap Islam.

Surabaya, 5 Desember 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here