Pengkhianatan AS Terhadap Palestina

0
181

*Dr. Slamet Muliono

Dahulu, tahun 1967 waktu kami membakar masjid Aqsha, saya tidak bisa idur semalaman karena pusing memikirkan bayangan kelam bahwa besok rakyat Arab akan berbondong-bondong masuk negara Israel dari berbagai penjuru untuk balas dendam atas terbakarnya masjid mereka. Namun keesokan harinya saat matahari terbit kondisi aman. Sejak itu saya berpikir bahwa kami (Israel) bisa berbuat apa saja yang kami inginkan. Karena yang kami hadapi adalah umat yang tertidur. (PM Israel, Golda Meir)

Narasi di atas untuk menggambarkan betapa komunitas Israel memiliki kekhawatiran atas bangkitnya ruh jihad dari masyarakat Islam (Arab). Dengan jumlah yang besar, tentu umat Islam akan dengan mudah melibas habis Israel yang jumlahnya sedikit. Menurutnya, perilaku Israel merupakan perbuatan biadab terhadap masjid yang bersejarah dan diagungkan umat Islam. Namun kekhawatiran itu tidak muncul dan tidak ada serangan balik. Situasi yang aman itu merupakan gambaran bahwa umat Islam dalam keadaan tertidur.

Dalam pandangan umum komunitas Israel, ketika masjid yang pernah disinggahi dan sempat dijadikan kiblat di era Nabi Muhammad dibakar, seharusnya menggerakkan masyarakat Arab untuk menyerang Israel. Hal ini sebagai bentuk pembelaan terhadap rumah Allah. Fenomena tidurnya masyarakat Arab saat itu bukan hanya menunjukkan lemahnya umat Islam, tetapi menggambarkan pudarnya spirit jihad mereka. Betapa tidak, ketika musuh-musuh Islam menghinakan masjid al-Aqsha, umat Islam tidak tergerak untuk membalasnya.

AS dan Konspirasi Israel
Saat ini dunia diramaikan dengan pernyataan presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang menyatakan adanya pemindahan kedutaan bersanya di ibukota Israel yang terbaru, dari Tel Aviv ke Yerussalem. Dunia saat ini terus mengecam AS. Sebagai negara kampium demokrasi dan rujukan bagi negara-negara yang berperadaban maju, tetapi justru menjadi pelindung teroris dunia, Israel. Apa yang dilakukan AS seolah memberi lampu hijau bagi Israel untuk melanggengkan perilaku jahatnya, yakni menjajah dan menganeksasi Palestina.

Implikasi dari pernyataan Trump ini setidaknya ada dua. Pertama, dunia dialihkan untuk mempermasalahkan pemindahan ibukota Israel tanpa menyinggung eksistensi Israel yang terbukti telah melakukan kejahatan di Palestina. Dunia berwacana untuk menghabiskan energinya dengan membahas sah tidaknya pemindahan ibukota Israel ke Yerusalem, tanpa secara kritis membahas kejahatan Israel yang menyengsarakan rakyat Palestina. Orang hanya mempermasalahkan pemindahan, bukan substansi tentang kejahatan kemanusiaan Israel sepanjang sejarah. Di Tel Aviv saja, sebagian besar masyarakat dunia tidak mengakui keberadaan Israel, apalagi pemindahannya ke Yerussalem, tentu lebih menyakitkan lagi. Orang Palestina sendiri tidak menghalalkan sejengkal tanahnya dimiliki Israel.

Kedua, dunia akan mengakui keberadaan Israel sebagai sebuah negara meski belum memiliki ibukota. Israel sebagai sebuah komunitas selama ini dikenal sebagai kelompok yang memaksakan kehendak dengan menginvasi negara yang berdaulat (Palestina). Keberadaan Israel bukan hanya menjadi duri dalam daging bagi negara Palestina tetapi juga menjadi problem serius dan laten bagi negara lain. Hal ini karena Israel telah melakukan penjajahan dan merebut hak negara yang jelas-jelas berdaulat. Oleh karena itu, tidak banyak negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dengan adanya pernyataan Trump itu, semakin membuka mata dunia bahwa AS yang selama ini dianggap sebagai negara yang menegakkan demokrasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, tetapi justru menjadi penopang kejahatan yang dilakukan oleh Israel. Pernyataan ini juga semakin menguatkan opini dunia bahwa AS menjadi panggung depan dunia, dan panggung belakangnya adalah Israel. Dengan kata lain, Israel bukan hanya sebagai pengendali AS tetapi menjadi motor penggerak untuk menghegemoni dunia.

Menunggu Persatuan Umat Islam
Realitas di atas menunjukkan bahwa AS dan Israel merupakan dua negara setali tiga uang dalam memerangi Islam. Mereka memecah belah umat Islam dengan menciptakan blok-blok yang memiliki kepentingan yang berbeda. Alih-alih melawan asing yang menginjak-injak nilai-nilai Islam, mereka sibuk untuk memperjuangkan dan mempertahankan kepentingannya. Hal inilah yang akan memicu terjadinya blok-blok kepentingan itu semakin tajam dan sulit dipersatukan.

Oleh karena itu, ketika muncul pernyataan presiden AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, maka para pemimpin dunia Islam ribut dan terkotak-kotak. Mereka tidak segera bersatu untuk melakukan tindakan penyelamatan terhadap Yerusalem dan bertindak tegas terhadap kelancangan AS ketika mengakui pemindahan ibukota Israel ke wilayah negara Palestina. Yang bereaksi dan mengutuk tindakan AS justru rakyat dan masyarakat Islam kebanyakan. Mereka menyuarakan kepentingan rakyat Palestina yang terus dijajah oleh Israel dan dibohongi oleh AS dan sekutunya.

Oleh karena itu, tidak salah pernyataan Golda Meir yang menyatakan masyarakat Islam, dalam hal ini para pemimpinnya, sedang dalam keadaan tertidur. Hal ini bisa dilihat dari rasa aman yang dirasakan Israel ketika mengakui Yerusalem sebagai ibukota tanpa mengindahkan perasaan rakyat Palestina yang sedang terjajah dan terhinakan. Palestina yang terus berjuang untuk memperoleh legitimasi sebagai negara yang sah tetapi justru negara AS melakukan pengkhianatan. Pengkhianatan AS terjadi ketika melegitimasi dan mengakui ibukota Israel bercokol di Yerusalem, wilayah negara Palestina.

Surabaya, 13 Desember 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here