Mewaspadai Pelegalan LGBT Di Tengah Kelengahan Negara

0
309

*)Dr. Slamet Muliono

Saat ini masyarakat Indonesia terus disibukkan dengan perang melawan perilaku seks menyimpang. Hal ini tidak lepas dari kelengahan para pembuat kebijakan dan lemahnya penegak hukum di negara ini. betapa tidak, Di tengah masyarakat yang menganut nilai-nilai ketuhanan yang agung dan mengedepankan tegaknya norma dan tata aturan yang disepakati bersama, muncul sekelompok masyarakat yang ingin keluar dari aturan itu. Para pegiat pergaulan bebas terus memperjuangkan dan memberi ruang bagi para pelaku Lesbian Gender Biseksual dan Transgender (LGBT) untuk hidup secara legal dan bebas dari jeratan hukum. Mereka bukan hanya tidak peduli lagi terhadap rusaknya moral generasi bangsa, tetapi mereka justru merasa bangga dengan perilaku mereka. Mereka tanpa sadar untuk hidup secara bebas tanpa harus diikat dengan norma sosial dan nilai-nilai agama.

Fenomena penolakan Judicial Review KUHP pasal perzinaan dan LGBT, yang kemudian diikuti dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), maka semakin memberi angin surga bagi pelaku LGBT dan menyedihkan para pejuang nilai-nilai ketuhanan, khususnya kaum muslimin. Terlepas dari kewenangannya untuk memutuskan sah tidaknya pelaku LGBT dari jeratan hukum, putusan MK itu seolah menebarkan benih kerusakan generasi mendatang. Bagi para pejuang seks bebas, putusan MK ini memberi ruang kepada para pelaku seks bebas untuk mengembangkan sayapnya. Dengan demikian, fenomena ini akan semakin menghancurkan sendi-sendi semua tatanan yang dibangun di atas nilai agama dan norma sosial.

Lemahnya Kerjasama Antar Pemuka Agama
Fenomena kehidupan seks bebas, sehingga menyuburkan LGBT, tidak lepas dari lemahnya solidaritas dari para tokoh agama lintas agama. Mereka terkesan membiarkan umat Islam berjalan dan berjuang sendiri. Yang mereaksi terhadap semaraknya LGBT seolah hanya umat Islam, sementara pemeluk agama lain membiarkan dan menjadi penonton saja. Maka tidak salah bilama ada pandangan yang menyatakan bahwa semua pemuka agama, selain agama Islam, bersatu untuk menghancurkan mayoritas penduduk di negeri ini, dalam hal ini kaum muslimin. Kalau perzinaan dan LGBT benar-benar dilegalkan, maka bukan hanya umat Islam yang mengalami kehancuran, tetapi seluruh komponen masyarakat. Lalainya aparatur negara dalam melindungi dan mengamankan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana yang tercantum dalam Pancasila, semakin menambah akselerasi kehancuran anak-anak bangsa. Hal ini jelas preseden buruk bukan hanya bagi Islam di Indonesia, tetapi merupakan pukulan telak bagi para tokoh dan pemimpin negeri berpenduduk mayoritas muslim ini.

Ketika para pemuka agama dan pemimpin negara sudah tidak lagi memperhatikan pentingnya menjadi moral anak bangsa, maka akselerasi kehancuran sebuah peradaban masyarakat akan semakin nyata. Tidak adanya kecemburuan dari pemuka agama dan lemahnya negara dalam menekan penyimpangan seks bebas, jelas-jelas merupakan ancaman besar bagi masa depan bangsa itu.

Putusan MK ini bisa jadi menjadi pintu masuk bagi semakin leluasanya para pelaku seks bebas dalam memperjuangkan legalitas perzinahan dan LGBT. Kehidupan seks bebas, yang jelas-jelas berdampak pada rusaknya generasi bangsa, sudah seharusnya memperoleh prioritas untuk dilarang. Minuman keras saja, yang di dalamnya diakui terdapat manfaat, tetapi harus dilarang karena memiliki dampak kerusakan lebih besar. Bahkan Al-Qur’an melarang hal itu secara tegas. Sementara perzinahan dan LGBT yang jelas-jelas merusak generasi, sehingga Allah pernah memusnahkan seluruh generasi tanpa sisa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Luth.

Kalau ditelusuri lebih mendalam, LGBT sangat berbahaya bagi generasi dan ideologi bangsa. Ketika kehidupan sesama jenis dibiarkan bebas, maka bukan hanya generasi bangsa yang rusak, tetapi akan menghancurkan ideologi negara. Ketika generasi sudah permisif dan tanpa memiliki kendali agama, maka mereka terjerumus dalam seks bebas. Sementara ideologi negara, yang mengagungkan nilai-nilai ketuhanan akan runtuh bila perilaku seks bebas dan sesama jenis menyebar. Ketika LGBT dan seks bebas menggurita, otomatis menggusur nilai-nilai ketuhanan yang tercantum pada dasar negara.

Ketika legalitas LGBT dan seks bebas sudah berjalan dan terjadi pembiaran, maka skenario untuk menghancurkan negara sudah sedemikian kasat mata. Artinya, ketika muncul keputusan untuk melegalisasi kehidupan seks bebas, dan tidak ada lagi jeratan hukum bagi pelakunya, maka sama saja menghancurkan tatanan norma masyarakat yang telah dibangun dengan susah payah. Ketika peran tokoh agama, tokoh partai politik dan para cendekiawan sudah kehilangan akal sehatnya dalam merespon dampak LGBT, maka tinggal menunggu muncul kehancuran peradaban bangsa itu.

Semaraknya pelaku perzinahan dan LGBT merupakan ujian terbesar bukan hanya bagi umat Islam tetapi bagi bangsa ini. Ketika yang merasa tergerak untuk membendung kerusakan moral ini hanya umat Islam, dan umat lain diam dan membiarkannya, maka harus disadari bahwa seluruh pemuka dan tokoh agama sepakat untuk menghancurkan bangsa ini. Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi akselerasi kehancuran moral generasi bangsa ini, maka harus ada gerakan bersama para pemuka agama. Para pemuka dan tokoh lintas agama harus ada gerakan perlawanan terhadap perilaku. LGBT akan menjadi penumpang gelap untuk memuluskan kehidupan mereka guna mempercepat hancurnya semua tatanan dan norma agama di Indonesia ini.
Surabaya, 17 Desember 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here