Carut Marut Kebijakan Pemotongan Zakat Bagi ANS

0
342

*)Dr. Slamet Muliono

Polemik tentang zakat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS kembali mencuat. Pemerintah berencana mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk menarik zakat 2,5 persen bagi ASN muslim. Kementerian agama sudah menyiapkan draf untuk memuluskan rencana pemerintah itu. Namun di sisi lain, kebijakan ini mengandung banyak celah, sehingga berpotensi besar untuk ditolak oleh ASN yang menjadi sasaran pemotongan gaji.

Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi titik krusial dari kebijakan ini. Pertama, sasaran pemotongan zakat, peruntukan dana zakat, serta tingkat kepercayaan masyarakat muslim terhadap kebijakan ini.

Meskipun Menteri Agama RI, Lukman Hakim Syaifuddin, telah menyiapkan draf Perpres itu, namun banyak hal yang menjadi titik kelemahan. Selain menyatakan bahwa yang berkeberatan gajinya dipotong 2,5 persen bisa mengajukan permohonan keberatan, Menag menegaskan bahwa kebijakan ini bukanlah paksaan. Kebijakan ini dilakukan karena pemerintah melihat ada potensi besar dari zakat guna diaktualisasikan untuk kepentingan umat. Dana yang dipotong itu akan dikelola langsung oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Kontroversi Kebijakan Pemotongan
Dari sisi sasaran pemotongan zakat, menarik zakat 2,5 persen bagi ASN masih belum jelas dari dua sisi. Pertama, harta yang dikeluarkan harus mencapai nishab (batas minimal). Kedua, harta tersebut telah tersimpan setahun (hijriah). Kalau merujuk pada syariat Islam bahwa seorang hamba yang mengeluarkan zakat harus mencapai nishab. Nishab harta yang harus dikeluarkan harus senilai 85 gram emas atau senilai 42 juta (dengan asumsi 1 gram senilai 500 ribu). Sementara uang senilai 42 juta itu harus tersimpan selama setahun, sehingga dua syarat itu tidak terpenuhi untuk memotong gaji ASN.

Kalau diasumsikan seorang ASN memiliki gaji 5 juta, dan diambil 4 juta untuk kebutuhan hidupnya, dan disimpan 1 juta, maka dana yang disimpan hanya 12 juta setahun. Dan dana itu belum memenuhi syarat untuk dikeluarkan zakatnya, karena belum mencapai nishab, yakni 42 juta. Sementara realitas di lapangan menunjukkan bahwa kebanyakan para ASN, khususnya golongan I – III, mengambil habis semua gajinya, karena uang 5 juta sangat kurang untuk kebutuhan hidupnya. Sehingga tidak ada dana yang disimpan. Kalaupun tersisa hanya senilai ratusan ribu saja, dan ini tentu tidak memenuhi syarat wajib untuk mengeluarkan zakat.

Adapun peruntukan dana zakat akan melahirkan sejumlah polemik. Apakah penggunaan zakat itu untuk kepentingan umat Islam atau kepentingan seluruh warga negara Indonesia, yang di dalamnya ada warga non-muslim. Kalau yang mengeluarkan zakat para ASN muslim, yang kebanyakan tidak memiliki simpanan, karena terambil habis setiap bulannya. Maka sasarannya seharusnya dikembalikan untuk kesejahteraan hidup mereka sendiri, bukan untuk orang lain. Sungguh unik apabila mereka yang kurang mampu, kemudian mengeluarkan dana untuk kepentingan mereka yang berkecukupan.

Apa yang terjadi di Malaysia bisa menjadi contoh, bagaimana zakat dikelola dan peruntukannya untuk orang muslim. Pengelolaan dana zakat dikelola secara profesional, dimana umat Islam akan merasakan langsung manfaatnya. Pengelolaan zakat dan haji yang dikelola secara profesional, diinvestasikan membeli saham minyak dan kebun kelapa sawit. Dengan adanya pengelolaan itu, maka umat Islam memperoleh layanan yang lebih baik dengan biaya haji yang lebih murah. Bahkan dengan adanya pengelolaan dana yang berasal dari umat Islam akan memberi kontribusi langsung kepada para pelajar disana, diamana penduduk memperoleh biaya pendidikan lebih murah dengan fasilitas lebih baik.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, dimana umat Islam tidak memperoleh fasilitas haji yang lebih baik padahal bayarnya lebih mahal. Demikian juga dalam dunia pendidikan, dimana banyak masyarakat yang tidak memperoleh layanan pendidikan yang murah dengan fasiltas yang lebih baik.

Rendahnya Kepercayaan Umat Islam

Ketika pemerintah mengambil zakat kepada warga negara yang muslim, dan peruntukannya untuk kepentingan umum, maka sudah seharusnya pemerintah mengambil jizyah untuk mereka yang non-muslim. Itulah aturan ketika Islam ingin diterapkan. Tetapi yang terjadi saat ini berbeda. Alih-alih menerapkan syariat Islam secara utuh, pemerintah justru mengambil salah-satu aturan dalam Islam. Namun pengambilan aturan berzakat tidak lazim dan cenderung semau gue. Betapa tidak, pengambilan zakat adalah untuk mereka yang mampu dan itu berlaku untuk semua warga negara. Sementara yang terjadi saat ini adalah hanya untuk ASN muslim saja tanpa memandang mampu atau tidak.

Implikasinya, ulama, tokoh atau cendekiawan muslim, dan umat Islam secara umum mengkritisi kebijakan pemerintah itu. Ada kesan umat Islam hanya dimanfaatkan dananya saja, sementara ajarannya diadopsi secara utuh. Dengan kata lain, pemerintah hanya mengambil dana yang dimiliki umat Islam sementara ajarannya tidak diakomodasi secara keseluruhan. Alih-alih mendukung syariat Islam, tetapi yang terjadi adalah memarginalisasi nilai-nilai Islam. Pembiaran LGBT, tak cekatan dalam memproses humu bagi penista agama, dan bahkan kriminalisasi ulama terjadi secara kasat mata, sehingga membuat umat Islam kurang bersimpati kepada pemerintah. Oleh karena itu, ketika ada rencana memotong zakat bagi ASN, maka umat Islam bersikat kritis, bukan mendukungnya secara utuh.

Dengan kata lain, umat Islam hanya menjadi sasaran untuk kepentingan terselubung. Kalau sebelumnya dana haji diwacanakan untuk pembangunan infrastruktur, dan saat ini muncul kebijakan untuk memanfaatkan zakat, dengan pemanfaatan yang belum jelas dan tak transparan. Belum lagi kontribusi umat Islam sering dipandang sebelah mata, seperti tuduhan terhadap ormas Islam sebagai penghancur NKRI, atau sangkaan-sangkaan negatif terhadap Islam. Oleh karena itu, ketika muncul rencana memotong gaji bagi ASN muslim, maka reaksi umat Islam lebih banyak mengkritik untuk menolak daripada mendukung untuk menerimanya.

Surabaya, 9 Pebruari 2018

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here