Larangan Bercadar di Kampus Islam : Sebuah Ironi

0
360

*)Dr. Slamet Muliono

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, melakukan langkah-langkah kongkret untuk melarang mahasiswinya yang cadar di kampus. Bahkan pimpinan perguruan tinggi agama Islam ini akan melakukan konseling terhadap mereka yang mengenakan cadar. Bila tetapi kukuh tidak melepas cadarnya, mereka disuruh memilih keluar dari kampus. Cadar dianggap tidak ramah, dan lebih dekat Islam radikal, sehingga harus dikeluarkan dari arena kampus. Kebijakan ini bukan saja membatasi kenyamanan dalam melaksanakaan ajaran agama, tetapi mengganggu hak privat untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi Islam. Bercadar merupakan bagian dari agama, sehingga mengeluarkan mahasiswi bercadar bisa dianggap sebagai bagian dari merusak dan menginjak-injak nilai-nilai agama. Yang lebih tragis dan ironis, yang melakukan pelarangan bercadar bukan hampus non-Islam tetapi justru kampus Islam.

Cadar dan Anggapan Menyimpang

UIN Yogya menganggap bahwa mahasiswa yang mengenakan cadar dianggap menyimpang, minimal bermasalah, sehingga diharuskan mengikuti konseling. Konseling yang diberlakukan terhadap mereka yang bercadar ditangani oleh lintas keilmuan guna mengarahkan mereka untuk menjalankan Islam yang ramah sesuai dengan budaya Indonesia.

Merujuk pada kebijakan ini, bilamana telah melakukan konseling, dan mahasiswi tersebut terindikasi berpaham radikal, pihak kampus akan memberi sangsi tegas, yakni diminta mengundurkan diri. Kebijakan ini merupakan pada kebijakan rektor UIN Yogyakarta, Yudian Wahyudi bahwa tim konseling terdiri dari lima dosen dari berbagai bidang studi dan memberikan arahkan kepada mahasiswa bercadar. Kalau sampai 7 kali masih pada pendiriannya, maka mahasiswi diminta untuk mengundurkan diri. Kebijakan ini dilakukan seiring dengan maraknya berkembangnya ideologi radikal yang tidak sesuai dengan esensi Islam dan budaya keislaman di Indonesia. Selain meluruskan paham atau ideologi radikal, kebijakan melarang cadar ini untuk mempermudah administrasi kampus, termasuk administrasi saat kampus menyelenggarakan ujian. Alasan yang ditunjukkan adalah siapa yang menjamin bahwa dia orangnya. Kan bisa saja orang lain yang ikut ujian itu. Terlebih lagi, saat pertama kali masuk kampus dulu, seluruh mahasiswa menyatakan sanggup mematuhi aturan yang ada di kampus. (detik.news,5/3/2017).

Tidak bisa dipungkiri bahwa fenomena larangan bercadar muncul seiring dengan tumbuhnya kesadaran beragama di berbagai kelas sosial di masyarakat. Kesadaran melaksanakan ajaran agama itu tumbuh demikian subur, baik di kalangan masyarakkat perkotaan maupun pedesaan. Pertumbuhan pondok pesantren dan munculnya media televisi serta massif kajian agama turut mendorong terdongkraknya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan ajaran agama.

Namun di tengah kesadaran untuk melaksanakan ajaran agama, muncul gerakan terorisme dan radikalisme yang dianggap bagian dari kelompok Islam yang menyimpang. Terorisme dan radikalisme selaalu membuat kekacauan dan merusak tatanan kehidupan bernegara. Salah satu di antara ciri yang melekat pada seorang teroris adalah berjenggot dan bercelana cingkrang, seerta memiliki istri yang bercadar. Oleh karena itu, bercadar diidentikkan dengan terorisme, radikalisme dan paham yang menyimpang. Sehingga siapapun perempuan yang bercadar dianggap sebagai bagian atau berpaham radikal.

Konseling merupakan kebijakan yang berpijak bahwa mahasiswi yang mengenakan cadar dianggap menyimpang, sehingga harus diluruskan agar tidak terperosok ke dalam penyimpangan yang jauh. Kebijakan konseling ini tidak lagi menganggap perbedaan dalam pemahaman dalam menafsirkan sebuah teks, dalam hal ini tentang cadar, tetapi menganggapnya sebagai hal yang menyimpang. Perbedaan madzhab saja tidak sampai menganggap orang lain menyimpang, tetapi tetap menghormati perbedaan biasa. Namun kebijakan konseling ini seolah orang yang bercadar itu telah berbuat menyimpang.

Cadar dan Pakaian Ketat: Perlakuan yang Berbeda
Kampus terlalu sensitif ketika melihat fenomena cadar, tetapi tidak peka terhadap fenomena mahasiswi yang mengenakan berbaju ketat atau transparan, sehingga membuat lawan jenis tumbuh syahwatnya dan tergoda untuk melakukan kemaksiatan, minimal maksiat memandang lawan jenis yang seronok. Fenomena berpakaian ketat dan seronok lepas dari sangsi, sementara mahasiswi bercadar justru memperoleh saksi. Mengeluarkan mahasiswa tentu harus jelas kesalahannya, seperti melanggar etika akademik, seperti berbuat amoral, tindakan asusila atau pelanggaran akademik lainnya.

Negara sudah memberi kebebasan beragama dan menjamin penduduknya untuk melaksanakan ajaran agamanya asal tidak mengganggu kepentingan umum. Bahkan komnas HAM juga menjamin perempuan untuk mengenakan berjilbab atau tidak, sementara kampus Islam justru melakukan pelarangan dengan alasan yang dicari-cari. Pelarangan mengenakan cadar mengingatkan cara-cara Barat dalam membendung Islam yang sudah demikian kuat masuk dan berkembang di sana.
Apakah pelarangan jilbab di kampus Islam bisa dikatakan sebagai bagian dari phobi terhadap cadar sebagaimana yang muncul di Barat. Kalau mereka demikian peka terhadap perempuan yang bercadar karena bisa mengganggu komunikasi dan pergaulan antara elemen masyarakat. Tetapi mereka tidak peka terhadap fenomena kriminalisasi dan ancaman yang diterima oleh para ulama dan tokoh agama.

Sebagai kampus Islam yang selalu menjunjung tinggi kebhinnekaan da menunjung tinggi perbedaan, saat naif apabila begitu sporadis melarang mahasiswi bercadar, tanpa melakukan tindakan lain yang menjamin kebebasan beragama mereka. Apabila di kampus Islam, kaum muslimah mengalami tekanan dalam melaksanakan ajaran agama (mengenakan cadar), maka mereka akan dicurigai lebih mendalam dan dituduh macam-macam ketika di kampus non-Islam. Maka tidak salah apabila spirit beragama terbunuh ketika di kampus Islam, sehingga masyarakat Islam semakin menjauh dan tidak mengkuliahkan anak-anak perempuan mereka, khususnya yang bercadar di kampus Islam. Bahkan mereka semakin kurang simpati terhadap UIN karena dianggap sebagai kampus sekuler yang mendangkalkan akidah mereka dan menggadaikan agama mereka dengan alasan tidak sesuai dengan budaya lokal atau tradisi Indonesia. Kampus Islam dianggap kurang peka terhadap fenomena pakaian ketat tetapi sangat kritis terhadap mereka yang menjalankan ajaran Islam untuk kaum muslimah untuk mengenakan cadar. Mudah-mudahan hidayah Allah turun kepada pengambil kebijakan sehingga menggagalkan kebijakan yang tidak kontributif terhadap Islam dan keterancaman bagi mereka yang mengenakan cadar.

Surabaya, 5 Maret 2018

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here