Bom Gereja, Stigma Teroris-radikal, dan Penghadangan Dakwah

0
190

*)Dr. Slamet Muliono
Aksi bom bunuh diri tersiar begitu massif dan tersebar di berbagai media serta bisa diakses oleh berbagai kalangan masyarakat. Bom bunuh diri telah terjadi secara bersamaan di hari minggu (13/5/2018) yang terjadi tiga gereja di Surabaya dibahas secara meluas, baik media televisi lokal maupun nasional. Bom bunuh diri tentu saja mengagetkan sekaligus mengkhawatirkan banyak pihak, khususnya berdampak terciptanya konflik di antara komponen masyarakat.

Stigma Terorisme-Radikalisme
Yang terasa aroma kurang sedapnya adalah dampak bom di tiga gereja ini berpotensi besar untuk menyudutkan Islam. Betapa tidak, aksi bom bunuh diri ini akan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyudutkan Islam, sekaligus bisa mengancam tersebarnya dakwah Islam. Menyudutkan Islam karena ada upaya membentuk opini bahwa umat Islam sangat sadis yang secara tega menghilangnya nyawa orang lain, tanpa memiliki belas kasih sama sekali. Mengancam tersebarnya dakwah Islam seiring dengan labeling yang diarahkan kepada sekelompok umat Islam yang memiliki spirit untuk menjalankan ajaran Islam.

Gereja sengaja dijadikan sebagai sasaran pengeboman, karena gereja merupakan tempat ibadah dan mudah untuk diproduksi dalam menciptakan konflik. Umat Islam akan mudah dijadikan sasaran kambing hitam bila terjadi aksi pengeboman seperti ini. Jarang terjadi ketika aksi pengemboman terhadap tempat ibadah, dalam hal ini gereja, dicari lebih dulu akar masalahnya secara jernih dan kemudian dipublikasi hasil temuannya di lapangan. Tetapi yang terjadi, begitu terjadi aksi pengeboman terhadap sebuah tempat ibadah, maka langsung muncul asumsi dan menuduh umat Islam sebagai pelakunya. Mereka langsung menyebut telah terjadi aksi terorisme yang diarahkan kepada umat Islam. Opini ini keluar dan sengaja diblow up, tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Implikasinya, opini masyarakat langsung terbentuk bahwa pelaku pengeboman adalah umat Islam.

Opini yang demikian liar ini kemudian dicari pembenarannya dengan mencari-cari fakta pendukungnya. Sehingga terkadang fakta-fakta itu mengandung sejumlah kontradiksi dengan kenyataan yang terjadi. Aksi teror yang terjadi di rumah tahanan Mako Brimob, yang menewaskan beberapa anggota Polisi, langsung terbentuk opini bahwa telah terjadi aksi terorisme dan radikalisme. Publik langsung menangkap pesan yang menyesatkan bahwa pelakunya adalah umat Islam. Setelah itu muncul pembenaran dengan menampilkan adanya ancaman terorisme, dimana ada dua perempuan yang dicurigai akan melakukan tindakan terorisme. Dua perempuan muslimah itu ditangkap karena dicurigai akan melakukan hal-hal yang membahayakan. Setelah ditangkap, ditemukan gunting sebagai senjata yang akan dilakukan untuk membunuh polisi.

Adanya kasus bom di tiga gereja itu hingga menggerakkan Muhammadiyah dan NU untuk menyatakan sikap atas kasus itu dengan pernyataan sebagai berikut. Mengecam dan mengutuk aksi terorisme yang dilakukan di tempt ibadah; meminta pihak keamanan untuk mengusut tuntas kasus ini dan mencegah terciptanya ketenangan dan kenyamanan masyarakat; dan mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu serta menahan diri untuk tidak terprovokasi dengan menggalang aksi solidaritas kemanusiaan.

Pernyataan resmi dua ormas itu bisa menjadi representasi pandangan kaum muslimin atas kasus bom terhadap tempat ibadah. Kecaman dan kutukan keras terhadap tindakan terorisme dan radikalisme menunjukkan aksi yang tidak merepresentasikan ajaran Islam. Tindakan teror bom terhadap umat beragama yang sedang beribadah merupakan ancaman serius dan bukan bagian dari Islam. Sementara Islam mengajarkan untuk menciptakan perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.

Implikasi Bom : Penghadangan Dakwah
Dengan adanya bom gereja ini setidaknya memberi peluang kepada pihak-pihak tertentu untuk melakukan penghadangan dakwah. Dakwah Islam sudah menyebar demikian massif dan meluas. Sebagian kaum muslimin secara intensif melakukan kajian Islam serta berupaya menjalankan nilai-nilai Islam dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran kaum muslimin memiliki spirit untuk menghidupkan ajaran Islam, sehingga lahir kajian rutin dan berkala hidup. Kajian-kajian itu menjamur baik di pinggiran, pelosok maupun dan tengah kota. Demikian pula muncul dan tumbuh subur bangunan masjid, sekolah, dan pesantren di berbagai tempat sebagai wujud naiknya spirit Islam.
Tersebarnya Islam di berbagai tempat bisa jadi terganggu karena adanya kasus bom terhadap gereja, yang kemudian melakukan labeling terhadap umat Islam sebagai pelalu tindakan terorisme dan radikalisme. Ketika label itu sudah distigmatisasi, maka masyarakat yang kurang terdidik mudah untuk diprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan menghadang dakwah Islam. Betapa banyak sekolah, yang terkenal dengan sekolah yang ingin mengajarkan dakwah Sunnah, merasa terintimidasi ketika disebut menyebarkan ajaran terorisme. Demikian pula bagi mahasiswa dan dosen yang intensif mendakwahkan Sunnah tiba-tiba diklaim sebagai kelompok atau agen radikal, dan ini akan membuat mereka tertekan. Bahkan pesantren-pesantren yang berdiri, dan telah melahirkan generasi terdidik dan religius, dianggap sebagai sarang teroris dan mengajarkan paham radikal.
Tersebarnya berita bom di tiga gereja yang begitu cepat dan massif itu, diakui atau tidak, berpotensi besar dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menumpang guna memanfaatkan momentum untuk menghadang tersebarnya dakwah Islam. Dengan kasus bom terhadap gereja diupayakan untuk membentuk opini bahwa telah terjadi ancaman terorisme dan radikalisme yang dilakukan umat Islam. Terjadinya terorisme dan radikalisme tidak lepas dari tumbuhnya spirit dan kajian Islam yang dilakukan oleh umat Islam. Stigma terorisme dan radikalisme kemudian disematkan kepada mereka yang memiliki kesadaran Islam dengan menyebutkan ciri dan karakteristiknya, seperti berjenggot, celana cingkrang, dan shalat berjamaah di masjid serta aktif mengikuti kajian Islam. Hal inilah yang berpotensi besar terjadi penghadangan dakwah dengan alasan untuk menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme.

Surabaya, 13 Mei 2018

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here