Mengenal Ponpes Hamalatul Quran Sleman, Pencetak Generasi Penghafal Qur’an

0
206

Lau thaharot qulubuna lamma Syabiat min Kalamillah
(Seandainya hati kita suci niscaya ia tidak akan kenyang dari Al-Quran)

Tulisan di atas tertulis di banner, yang tertempel di tembok sebelah kiri pintu masuk pondok pesantren Hamalatul Quran 2. Itulah visi pondok agar sejak dini mendekatkan generasi muda Islam terhadap Al-Quran. Oleh karena itu, sangat relevan bila pondok HQ menetapkan profil lulusannya hafal Al-Quran secara tuntas. Sehingga di pondok, aktivitas santri lebih banyak membaca, menghafal, dan memurajaah Al-Quran. Tidak heran apabila aktivitas santri sibuk bersama Al-Quran, hingga mereka tertidur dengan memegang Al-Quran.

Hamalatul Quran 2 yang terletak di desa Sleman Kecamatan Triharjo, Sleman Yogyakarta, memiliki induk di Hamalatul Quran yang terletak di jalan Kembaran, desa Tamantirto, kecamatan Kasihan, Bantul. Berbeda dengan pondok pesantren yang lain, pondok pesantren Hamalatul Quran mensyaratkan lulusannya wajib hafal al-Quran untuk tingkat SMP. Kesibukan santri difokuskan untuk menghafal Al-Quran, sehingga di berbagai tempat, baik masjid, halaman pondok, gazebo, atau sudut-sudut ruangan, para santri sibuk menghafal atau memurajaah Al-Quran.

Untuk menghafal Al-Quran bukan jalan mudah, tetapi harus melewat jalan terjal penuh dengan tantangan dan hambatan. Ada santri yang mudah dalam menyetorkan hafalan Al-Quran sehingga bisa tuntas sesuai target. Namun ada santri yang berupaya memenuhi target hafalan dengan kiat-kiat yang cukup unik. Ada yang bangun di tengah malam karena dengan suasana tenang, dia bisa menghafal. Bahkan ada pengalaman santri yang cukup unik. Ketika menghafal harus menyendiri di sebuah ruang pojok, kepalanya ditutupi kerdus. Hal itu dilakukan terus menerus, sehingga pada akhirnya bisa melewati saat-saat sulit itu, hingga mampu menghafal Al-Qiuran.

Menghafal merupakan prasyarat kenaikan kelas bagi santri. Untuk bisa naik ke kelas dua Mutawasithah (setingkat SMP), santri harus menghafal 8 juz. Sementara untuk bisa naik ke kelas tiga, santri harus hafal 12 juz, dan di kelas tiga menyelesaikan 10 juz. Sehingga lulus kelas tiga, santri sudah hafal 30 juz. Namun dalam perkembangannya, pondok pesantren memutuskan program akselerasi dalam menghafal Al-Quran, dimana santri diharuskan hafal Al-Quran dalam waktu dua tahun.
Dengan adanya program akselerasi itu, santri ditargetkan hal Al-Quran selama dua tahun saja. Dalam prakteknya, santri kelas satu harus menghafal 8 juz. Sementara sisanya (22 juz) diselesaikan selama setahun ketika di kelas dua. Sehingga ketika kelas 3, santri hanya murojaah saja dan akan fokus untuk menghadapi Ujian Nasional (UNAS) dengan sistem Paket.

Metode menuntaskan hafalan Al-Quran di kelas dua, dan fokus belajar mempersiapkan ujian nasional di kelas tiga, membuat prestasi akademik yang membanggakan. Tiga tahun berturut-turut santri Hamalatul Quran berhasil memperoleh nilai tertinggi di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan kata lain, menghafal Al-Quran justru mempermudah jalan bagi santri untuk meraih nilai tertinggi, dan tidak kalah dengan siswa sekolah umum.

Hal ini meneguhkan bahwa fokus menghafal Al-Quran tidak menjadi hambatan bagi generasi Islam untuk bisa menguasai ilmu pengetahuan umum. Terisinya dada-dada generasi Islam dengan Al-Quran membuat hati mereka bersih dan mudah untuk menyerap informasi apapun dengan mudah.

(Ditulis oleh Dr. Slamet Muliono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here